BERITA LAMPUNG

Sunday, May 16, 2010

Penanggulangan Teroris Ala Malaysia

Untuk kali kesekian, Detasemen Khussus 88 berhasil menumpas kelompok teroris. Mungkin kita perlu memikirkan lagi, mengapa pengacau itu leluasa di Indonesia daripada Malaysia? Dulu, Noordin M. Top yang telah mengobok-obok Indonesia tidak bisa meneror di negeri sendiri. Meski negeri jiran itu mempunyai Internal Security Act (Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri) yang bisa menghukum siapa saja tanpa pengadilan, sebenarnya ia tidak mampu mencegah masuknya pendatangan asing yang justru bisa dijadikan pintu masuk teroris untuk melakukan kekerasan. Namun, langkah tersebut tak juga dilakukan.

Kalau ditelisik, Noordin mungkin tak menemukan pelaku yang akan memuaskan niat jihadnya karena kesulitan merekrut segelintir martir. Di Malaysia, ideologi kematian tidak laku. Sebab, warganya berjuang untuk hidup. Betapa pun masih dirasakan ketidakadilan ekonomi, pembagian kue pembangunan di negeri tetangga tersebut lebih merata. Lagi pula, media di sana tidak lagi meributkan isu neoliberalisme, melainkan bagaimana kegiatan ekonomi bermanfaat bagi orang ramai. Malah, partai Islam di sana, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), tak lagi berbicara tentang formalisasi syariat, melainkan konsep negara kesejahteraan (di sana disebut negara kebajikan).


Negara dan Islam
PAS sebenarnya menjadi katup bagi unsur-unsur Islam formal sehingga kekuatan fundamentalisme tidak tumbuh subur. Malah, UMNO (United Malays National Organization) sebagai partai sekuler sebenarnya juga wujud dari gerakan islamisasi meskipun tidak formal. Keduanya sama-sama mendukung islamisasi dalam banyak bidang, meski sumber rujukan ideologinya berbeda. Pada masa Anwar Ibrahim, UMNO sebagai partai utama dalam koalisi Barisan Nasional telah berhasil melakukan islamisasi pada banyak bidang, seperti pendidikan (Universiti Islam Antarabangsa) dan keuangan (Bank Muamalat).

Memang, kadang masih muncul perselisihan, apakah Malaysia adalah negara Islam atau bukan. Namun, media massa di sana tak membesar-besarkan isu itu. Perkelahian klaim politik Islam antara UMNO dan PAS acap menyeruak ke permukaan. Keduanya sama-sama memiliki barisan sarjana Islam dan ulama yang di tangannya ada segepok dalil tentang siapakah yang lebih Islam. UMNO sering tampil sebagai antitesis terhadap Islam "kaku" PAS. Tentu itu bisa dipahami karena ia lahir sebagai partai yang memilih Melayu, bukan Islam.

Bagaimanapun, Tunku Abdul Rahman, bapak kemerdekaan Malaysia, menegaskan bahwa Malaysia bukan negara Islam. Pernyataan itu acap diulang banyak orang untuk menegaskan bahwa negara bekas jajahan Inggris tersebut sekuler. Namun demikian, pada masa yang sama, pemerintah juga memberlakukan hukum Islam formal secara selektif. Hukum syariat diberlakukan untuk pelarangan judi dan minuman keras terhadap orang Islam secara aktif. Bahkan, kantor agama Islam di beberapa provinsi berfungsi sebagai polisi moral yang bisa menangkap pelaku yang diduga bertindak "maksiat". Tampak sekulerisme dan syariat berjalan berdampingan. Para islamis tak menemukan ruang untuk menawarkan agenda masing-masing.

Jihad Ekonomi-Budaya
Di Malaysia, sikap ekstrem telah menjadi musuh bersama semua kelompok masyarakat. Sikap moderat yang dianut, bahkan oleh UMNO, dengan konsep Islam Hadhari Abdullah Badawi, bekas Perdana Menteri Malaysia, mengandaikan sikap progresif tak jauh berbeda dengan yang dianut Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Belum lagi, konsep satu Malaysia dari Najib, PM ke-6, yang mengandaikan kesatuan masyarakat dari berbagai latar belakang etnik dan agama sebagai satu bangsa telah mengandaikan sebuah ideologi pluralisme. Pendek kata, Malaysia memegang teguh multikulturalisme.

Sikap keras Malaysia terhadap sikap ekstrem telah mengikis pandangan eksklusif segelintir masyarakat. Organisasi keagamaan di sana, seperti Jamaah Islamiyah Malaysia (JIM) yang dituduh sebagai fundamentalis oleh anggota DPR dari DAP, Jeff Ooi, pernah mencuat ke permukaan. Namun, yang terakhir minta maaf. Sebagai pemakluman, JIM adalah kelompok yang menekankan aksi sosial dan budaya. Organisasi keagamaan lain, Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), juga menganut ideologi lunak dengan menekankan pengembangan pendidikan dan aktivisme sosial.

Tentu yang tak bisa diabaikan adalah gagasan ekonomi Islam yang mengutamakan keadilan. Konsep ideal itu tak hanya diterakan di atas kertas, tapi telah menjadi sikap beberapa pegiat ekonomi, seperti J Corp yang dinakhodai Ali Hashim. Perusahaan itu telah mewakafkan RM 200 juta saham untuk umat. Langkah tersebut dianggap sebagai jihad bisnis. Kegiatan lain, pengembangan properti Islam tidak hanya bersifat fisik, tetapi pada masa yang sama menekankan dasar seperti tazkiyah (pembangunan kerohanian), tarbiyah (pembangun akal budi), tanmiyah (pembangunan sosial dan ekonomi), tatawur (budaya dan gaya hidup), dan akhirnya taqadum (keadaban).

Yang mencengangkan, aktivitas anak perusahaan, seperti klinik masjid, juga terbuka bagi masyarakat nonmuslim. Tidak heran, ideologi kematian tidak berkembang karena di sana orang Islam berjuang memelihara kehidupan, tujuan utama syariat (maqasid al-syariah).

Berdasar pengalaman negeri jiran, selayaknya para islamis tak lagi menggelorakan jargon formalisasi syariat. Umat Islam di Indonesia telah menjalankan agama sejak Islam datang ke Nusantara pada abad ke-13 hingga sekarang. Pada masa yang sama, organisasi massa keagamaan, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, tidak terlalu asyik dengan hiruk pikuk politik kekuasaan. Keduanya segera mengentaskan masalah ekonomi anggota masing-masing. Kebutuhan mendesak umat adalah tersedianya pelayanan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja serta pengembangan ekonomi. http://www.simpuldemokrasi.com/artikel-opini/2206-melawan-teroris-ala-malaysia.html

Tag : Sistem Kerja teroris,melihat analisa penanggulangan teroris di indonesia

Baca Juga



0 comments:

Post a Comment