BERITA LAMPUNG

Monday, May 24, 2010

Analisa Dampak Pasar Modal Terhadap Menteri Keuangan Baru Agus Marto

Info Gua Analisa Dampak Pasar Modal Terhadap Menteri Keuangan Baru Agus Marto ; Tidak lolos uji kelayakan oleh Komisi IX DPR sebagai calon gubernur Bank Indonesia pada 2008, Agus Martowardojo malah ditunjuk menjadi Menteri Keuangan. Dirut PT Bank Mandiri Tbk ini menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang per 1 Juni ini menjadi direktur pelaksana di Bank Dunia dan berkantor di Washington DC.

Agus Marto langsung didampingi Wakil Menkeu Anny Ratnawati. Duet petinggi Kemenkeu itu diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kediaman pribadi, Puri Cikeas, Bogor, Jabar, Rabu (19/5) tadi malam. Sebelumnya diberitakan, tiga perempuan disebut-sebut sebagai calon Menkeu. Selain Anny, ada Marie Elka Pangestu yang kin Mendag dan Armida Alisjahbana yang menjabat Kepala Bappenas.

Duet Agus Marto-Anny memimpin Kemenkeu diperkirakan hanya memberikan imbas positif sementara pada bursa saham, Kamis (20/5) ini. Pasar bursa regional dan global masih menjadi kiblat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi tadi, indeks sempat terdongkrak 25 poin ke level 2.754,842 dari penutupan kemarin di level 2.729,484. Sayangnya, pada pukul 10.42 JATS indeks melorot hingga 27,93 poin ke level 2.701,55.

”Penyebab dominan indeks naik sebenarnya pasar regional yang memang naik, tapi pastilah ini juga bentuk optimisme pasar terhadap Menkeu baru. Sebenarnya, siapapun orang yang dipilih presiden pastilah orang yang kredibel dan dapat dipercaya,” ujar pengamat bursa Edwin Sinaga, saat dihubungi siang tadi.

Apalagi, selama ini sosok Agus dikenal sebagai Direktur Utama Bank Mandiri yang berhasil meningkatkan aset bank plat merah ini. Sementara, Wakil Menkeu Anny Ratnawati juga dikenal memiliki kemampuan analisa yang baik.

Hal berbeda diungkapkan Ikhsan Binarto, analis PT Optima Securities. Terpilihnya dua orang tersebut masih kurang memenuhi harapan pelaku pasar. Apalagi saat ini seluruh negara sedang mewaspadai krisis Yunani.

’’Sepertinya kurang memberikan angin segar. Pasalnya, Agus Martowardojo berasal dari kalangan bankir, sedangkan Menkeu harus orang yang mengerti makro ekonomi,’’ katanya. Meski, diakuinya Anny Ratnawati ahli di bidang keuangan, karena posisinya di bawah Menkeu, ruang gerak dia jadi terbatas.

Apalagi, kata dia, Agus kurang memiliki pengalaman lobi dengan DPR maupun lembaga-lembaga internasional, tidak seperti Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

Analis pasar modal, Pardomuan Sihombing, juga berpendapat, terpilihnya Agus dan Anny sebagai menteri keuangan dan wakilnya tidak terlalu mengejutkan. Nama-nama tersebut sudah beredar di pasar.

Felix Sindhunata, praktisi pasar modal sependapat, adanya pengganti Sri Mulyani sebagai Menkeu yang baru pengaruhnya kecil bagi pelaku pasar modal. Sebab, investor masih mengacu pada sentimen eksternal. ”Tapi pelaku pasar tetep akan mencermati kinerja, visi dan misi mereka ke depan bagaimana,” katanya.

Dia menyarankan, sebagai pemimpin tertinggi di Kementerian Keuangan yang baru, sebaiknya Agus jangan langsung mengeluarkan kebijakan baru yang bisa membuat pasar malah resah.

Riil Gantungkan Harapan

Berbeda dengan pelaku pasar modal, pengusaha di sektor riil menyambut positif terpilihanya Agus dan Anny. Mereka berharap agar Menkeu baru bisa melanjutkan reformasi birokrasi dan berani menghadapi tekanan dunai politik.

"Untuk memimpin Kementerian Keuangan dibutuhkan sosok yang berani dan tegas menghadapi tekanan politik serta intervensi dari berbagai kalangan. Tekanan itu terutama ketika akan mengambil kebijakan fiskal dan moneter, termasuk saat pengambilan keputusan dalam penyusunan APBN,” ujar Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi. Menurut Sofjan, Agus harus mampu membina hubungan baik dengan DPR, sehingga setiap kebijakan keuangan negara tepat sasaran dan tepat waktu.

Pekerjaan rumah lainnya adalah konsisten melanjutkan reformasi birokrasi terutama pada Direktorat Pajak dan Bea Cukai sebagai salah satu fokus yang sudah dijalankan oleh pendahulunya. Dua direktorat ini sudah terbukti menjadi 'sarang korupsi' yang menghambat sekaligus memicu ekonomi biaya tinggi.

"Saya rasa Agus mengerti betul pengelolaan moneter, termasuk bagaimana menggerakkan sektor riil karena perbankan identik dengan pembiayaan untuk mendorong dunia usaha," katanya.

Meski begitu, pria kelahiran Amsterdam, 24 Januari 1956 ini dinilai memiliki kelemahan terutama karena tidak berpengalaman di birokrasi.

Sementara, kalangan pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai Agus dekat dengan sektor riil dan memahami benar kebutuhan dunia investasi. "Kalau insentif pajak jalan, investasi akan terangkat. Diangkatnya kalangan bankir jadi Menkeu akan membawa angin segar," tegas Ketua Umum HIPMI Erwin Aksa.

Sedangkan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap Menkeu baru dapat menggerakkan sektor riil dengan langkah-langkah jitu yang dimilikinya. "Sangat positif, dia mengerti makro dan berpihak pada sektor riil. Sekarang tantangannya bagaimana gerakkan sektor riil melalui langkah-langkah jitu. Kadin menaruh harapan besar," ujar Wakil Ketua Umum Kadin bidang UMKM, Sandiaga Uno.

Rabu (19/5) malam, Sri Mulyani menyambut baik terpilihnya Agus dan Anny. ’’Itu bagus sekali, akan sangat bagus bagi pasar,’’ ujarnya di Jakarta. Menurut Sri, pasar akan merespons positif terhadap penunjukan Agus.

’’Dia bukan orang baru. Reputasinya sudah dikenal oleh semua orang,’’ tambah Sri Mulyani. Bahkan, dia menilai Agus akan membawa kemampuan leadership atau kepemimpinannya yang mumpuni ke Kementerian Keuangan.

Demikian juga Anny Ratnawati, Sri Mulyani mengatakan, sangat cocok jadi Wakil Menkeu karena sudah tahu kondisi di dalam Kementerian Keuangan. Sri menilai duet Agus dan Anny adalah kombinasi yang sangat baik. ’’Ini akan sangat luar biasa.’’ Sri menyarankan Agus bekerja sesuai karakternya selama ini.

Presiden SBY saat mengumumkan penunjukkan Agus Martowardojo sebagai Menkeu dan Anny Ratnawati Wakil Menkeu mengatakan, kedua tokoh ini memiliki kapasitas dan integritas yang baik. Keduanya juga memiliki jam terbang tinggi dan pengetahuan yang mumpuni serta memiliki jaringan yang baik di dunia internasional.

Agus Marto sendiri mengaku tahu penunjukan dirinya sebagai Menkeu pukul 17.00 Rabu kemarin, tiga jam sebelum Presiden SBY mengumumkan penunjukan Menkeu baru dan wakil Menkeu. Dia dipanggil ke Puri Cikeas bertemu Presien dan Wapres. Juga hadir Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Sekab Dipo Alam, dan Mensesneg Sudi Silalahi juga ada di sana. den,tsa
search ;
Dampak Ekonomi Terhadap Menteri Keuangan Baru, Pengaruh Pasar Modal Terhadap Mentri Keuangan baru, sambuatan Pasar Pmodal Terhadap Terpilihnya Agus Marto sebagai Menkeu.

Baca selengkapnya......

PENGARUH KOMUNIKASI ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN BAGIAN AKUNTANSI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI DAN TEKANAN PEKERJAAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENIN

PENGARUH KOMUNIKASI ORGANISASI TERHADAP KINERJA
KARYAWAN BAGIAN AKUNTANSI DENGAN KOMITMEN
ORGANISASI DAN TEKANAN PEKERJAAN
SEBAGAI VARIABEL INTERVENING


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Akuntansi manajemen dibangun atas dasar perilaku manusia dalam organisasi, oleh karena penerapan metode-metode dan teknik-teknik akuntansi manajemen harus mempertimbangkan perilaku manusia. Pengetahuan tentang perilaku, digunakan untuk mempengaruhi perilaku para individu maupun kelompok dalam organisasi ke arah tujuan yang diinginkan oleh manajemen. Untuk tujuan tersebut, akuntansi manajemen hendaknya mengadaptasikan perilaku manusia tersebut ke dalam sistem pelaporan internal sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan kemauan individu-individu dan kelompok dalam organisasi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi prestasi mereka (Anthony, 2000).

Pertanggungjawaban merupakan kewajiban untuk melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan, yang pada dasarnya hanya dapat diterapkan pada manusia dan pertanggunjawaban ini muncul akibat adanya hubungan antara atasan dan bawahan. Dengan demikian, terdapat hubungan yang erat antara struktur organisasi dan sistem akuntansi pertanggungjawaban. Idealnya sistem akuntansi pertanggungjawaban mencerminkan dan mendukung struktur dari sebuah organisasi (Hansen, 1997).

Akuntansi pertanggungjawaban sebagai kontrol perusahaan dengan diciptakannya jaringan kerja yang bersamaan dengan struktur organisasi. Top manajemen membaginya dalam struktur organisasi dan ditetapkan otoritas dan pertanggungjawabannya. Setiap manajer pusat pertanggungjawaban hendaknya berusaha untuk mengendalikan berbagai aktivitas yang berada dibawahnya dan mengkomunikasikannya kepada bagian yang terkait.

Komunikasi juga penting dalam sistem pengendalian manajemen yang merupakan alat untuk memonitor atau mengamati pelaksanaan manajemen perusahaan yang mencoba mengarahkan pada tujuan organisasi dalam perusahaan agar kinerja yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan dapat berjalan lebih efesien dan lancar, yang dimonitor atau yang diatur dalam sistem pengendalian manajemen adalah kinerja dari perilaku manajer di dalam mengelola perusahaan yang akan dipertanggungjawabkan kepada stakeholders (Soobaroyen, 2006). Merchant (1998) mengatakan bahwa orientasi perilaku berhubungan dalam lingkungan pengendalian manajemen, perilaku berpengaruh dalam desain sistem pengendalian manajemen untuk membantu, mengendalikan, memotivasi manajemen dalam mengambil keputusan dan memonitor perilaku yang dapat mengendalikan aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam sebuah organisasi. Sistem pengendalian manajemen adalah sejumlah struktur komunikasi yang saling berhubungan yang mengklasifikasikan proses informasi yang dapat membantu manajer dalam mengkoordinasi bagiannya untuk mengubah perilaku dalam pencapaian tujuan organisasi yang diharapkan pada dasar yang berkesinambungan (Maciarriello dan Kirby, 1994).

Pengendalian manajemen merupakan suatu proses yang menggunakan manajer. Para manajer ini memutuskan tujuan organisasi, menyampaikan tujuan tersebut kepada anggota organisasi, memutuskan tugas-tugas yang harus dilaksanakan dan sumber daya yang harus digunakan untuk melaksanakan tugas tersebut. Kegiatan seperti komunikasi, persuasi, pemberian inspirasi dan pemberian penghargaan terhadap keberhasilan bawahan merupakan bagian penting di dalam proses pengendalian manajemen.

Salah satu fungsi dari pengendalian manajemen adalah mengkomunikasikan informasi kepada para manajer yang ada dalam organisasi. Informasi ini dapat berupa informasi akuntansi maupun non akuntansi. Informasi ini membuat para manajer selalu mengetahui apa yang sedang berlangsung dan membantu menjamin terkoordinasinya pelaksanaan pekerjaan berbagai pusat pertanggungjawaban. Informasi ini disampaikan dalam bentuk laporan. Atas dasar laporan maka para manajer akan mengambil keputusan untuk: melakukan perubahan terhadap pelaksanaan anggaran, melakukan perbaikan terhadap anggaran, melakukan perbaikan terhadap program, melakukan perubahan strategi (Anthony, 2000).

Komunikasi yang terjadi di dalam organisasi disebut komunikasi organisasi. Price (1997) mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai derajat atau tingkat informasi tentang pekerjaan yang dikirimkan organisasi untuk anggota dan diantara anggota organisasi. Tujuan komunikasi dalam organisasi adalah untuk membentuk saling pengertian (mutual understanding) sehingga terjadi kesetaraan kerangka referensi (frame of references) dan kesamaan pengalaman (field of experience) diantara anggota organisasi. Komunikasi organisasi harus dilihat dari berbagai sisi yaitu pertama komunikasi antara atasan kepada bawahan, kedua antara karyawan yang satu dengan karyawan yang lain, ketiga adalah antara karyawan kepada atasan.

Hubungan komunikasi antara atasan dan bawahan juga tidak bisa dilepaskan dari budaya paternalistik yaitu atasan jarang sekali atau tidak pernah memberikan kepada bawahannya untuk bertindak sendiri, untuk mengambil inisiatif dan mengambil keputusan. Hal ini disebabkan karena komunikasi yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan bersifat formal dimana adanya struktur organisasi yang jauh antara atasan dengan bawahan. Sehingga konsekuensi dari perilaku ini bahwa para bawahannya tidak dimanfaatkan sebagai sumber informasi, ide, dan saran..

Komunikasi organisasi, komitmen organisasi, dan tekanan pekerjaan telah banyak menerima perhatian dalam penelitian perilaku organisasi. Variabel-variabel perilaku organisasi ini signifikan terhadap keseluruhan kinerja karyawan. Sebagai contoh, komunikasi organisasi yang buruk akan menyebabkan komitmen organisasi yang rendah berdasarkan penilaian tiga komponen dasar komitmen organisasi yaitu identifikasi, keterlibatan, dan loyalitas akan berkurang (Kramer, 1999, Rodwell et al., 1998). Tingkat komitmen organisasi ditemukan mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja (Yousef, 2000) dan pengaruh negatif terhadap tekanan pekerjaan
(Sager, 1990).

Komunikasi organisasi merupakan suatu proses dinamik yang berfungsi sebagai alat utama bagi sukses atau tidaknya organisasi dalam hubungannya dengan lingkungan tugas. Pincus (1986) menemukan komunikasi berhubungan positif dengan kinerja, tetapi tidak sekuat hubungan antara komunikasi dengan kepuasan. Chen et al., (2006) menyatakan komunikasi organisasi berhubungan positif dengan komitmen organisasi dan kinerja dan berhubungan negatif dengan tekanan pekerjaan. Namun demikian Rodwell (1998) menyatakan bahwa variabel komunikasi berhubungan negatif dengan kinerja.

Pada dasarnya kinerja merupakan sesuatu hal bersifat individual, karena setiap karyawan memiliki tingkat kemampuan berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Kinerja bergantung pada kombinasi antara kemampuan, usaha, dan kesempatan yang diperoleh. Mangkunegara (2000) mengemukakan pengertian

kinerja yaitu hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikanya. Keats et al., (1988) menyatakan bahwa kinerja merupakan sebuah konsep yang sulit. Hubungan komitmen organisasi dengan kinerja menunjukkan hasil yang belum konsisten. Kalleberg dan Marsden (1995) menemukan bahwa hubungan sederhana antara komitmen organisasi dan kinerja adalah positif. Namun demikian, Wright (1997) menemukan korelasi negatif antara komitmen organisasi dan kinerja.

Hubungan antara keterlibatan pekerjaan dari komponen komitmen dan variabel lainnya meliputi kinerja ditemukan mempunyai hubungan positif (Babin dan Boles, 1996). Peneliti-peneliti lain juga telah menemukan bahwa komitmen organisasi dan kinerja merupakan korelasi positif (Bough dan Roberts,1994; Ward dan Davis, 1995). Pada bagian lain, Mathieu dan Zajac (1990) mengadakan suatu meta-analisis dari penelitian yang dipublikasikan menjelaskan hubungan dan menyimpulkan bahwa komitmen mempunyai pengaruh langsung yang tidak signifikan terhadap kinerja .

Downs (1981) menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara komunikasi organisasi dan komitmen organisasi. Putti et al., (1990) mendapati dimensi-dimensi komunikasi pihak atasan, komunikasi penyeliaan dan kepuasan kerja global mempunyai korelasi yang signifikan dengan komitmen keorganisasian. Allen (1992) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal seperti upaya karyawan untuk memberikan pendapat dan pandangan berkaitan dengan isu di sekitar mereka dan komunikasi dengan pihak atasan, rekan kerja dan penyelia (supervisor) merupakan faktor yang berpengaruh pada komitmen organisasi. Tingkat komitmen

rendah dikaitkan dengan perpindahan, penurunan kerja, gangguan kesehatan, tekanan
dan masalah-masalah lainnya di tempat kerja (Ward dan Davis, 1995).

Penelitian yang dilakukan oleh Kennis (1979) menyatakan tekanan yang timbul dari keadaan stress psikologi di dalam lingkungan kerja dapat berupa reaksi emosional yang bersifat negatif terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan pekerjaan.Tekanan kerja yang tinggi juga dapat menimbulkan frustasi dan kegelisahan dalam bekerja (Hopwood, 1973). Jika organisasi atau perusahaan menjadi lebih besar dan kompleks, akan muncul pula tekanan-tekanan yang lebih besar terhadap setiap karyawan.

Tekanan-tekanan organisasi ini akan menjadi semakin berat, mengingat perusahaan-perusahaan sekarang dan yang akan datang berjuang untuk berkompetisi dalam pasar dunia yang semakin kompetitif. Montgomery et al., (1996) melihat tekanan pekerjaan yang kuat merupakan gangguan dalam peningkatan komitmen dan produktivitas. William et al., (2001) menekankan bahwa dalam jangka pendek dari tekanan pekerjaan berpengaruh secara psikologi maupun perilaku terhadap kinerja yang buruk. Penelitian tersebut juga melihat pengaruh komitmen dan komunikasi organisasi sebagai faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi kinerja akibat tekanan pekerjaan.

Badan Usaha Milik Negara atau BUMN merupakan suatu unit usaha yang sebagian besar atau seluruh modal berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan serta membuat suatu produk atau jasa yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. BUMN juga sebagai salah satu sumber penerimaan keuangan negara yang nilainya cukup besar. Persero adalah BUMN yang bentuk usahanya adalah perseroan terbatas atau PT. Bentuk perseroan semacam itu tentu saja tidak jauh berbeda

sifatnya dengan perseroan terbatas/PT swasta yakni sama-sama mengejar keuntungan yang setinggi-tingginya/sebesar-besarnya. Saham kepemilikan Persero sebagian besar atau setara 51% harus dikuasai oleh pemerintah. Karena Persero diharapkan dapat memperoleh laba yang besar, maka otomatis Persero dituntut untuk dapat memberikan produk barang maupun jasa yang terbaik agar produk output yang dihasilkan tetap laku dan terus-menerus mencetak keuntungan (www.organisasi.org,
2007).

Penelitian ini merupakan replikasi dari Chen et al., (2006). Penelitian Chen et al., (2006) menyatakan mengenai hubungan antara komunikasi organisasi, komitmen organisasi, tekanan pekerjaan dan kinerja pada profesi akuntansi dengan menggunakan sampel karyawan yang bekerja pada bagian akuntansi di berbagai bentuk perusahaan di Taiwan dan Amerika. Kelemahan penelitian Chen et al yaitu nilai stress dari karyawan bagian akuntansi tidak bisa diperbandingkan, hal ini disebabkan karena sampel yang digunakan dari berbagai bentuk perusahaan dengan budaya organisasi yang berbeda sehingga tingkat stress yang dihasilkan juga berbeda-beda. Penelitian Chen et al., (2006) memberikan rekomendasi pada penelitian selanjutnya untuk menekankan pada satu bentuk perusahan sehingga nilai stress dapat diperbandingkan. Perbedaan penelitian ini terletak pada sampel yaitu menggunakan sampel karyawan bagian akuntansi pada perusahaan BUMN. Hal ini dilakukan untuk memperoleh bukti empiris apakah dengan teori yang sama tetapi sampel berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang sama. Penelitian ini juga menguji pengaruh langsung komunikasi organisasi terhadap kinerja dan pengaruh tidak langsung komunikasi organisasi terhadap kinerja dengan komitmen organisasi dan tekanan pekerjaan sebagai variabel intervening dengan menggunakan analisis secara terpadu (integrated Modeling) yaitu Structural Equation Modeling (SEM).


1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka masalah yang diteliti selanjutnya dapat
dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
a. Apakah komunikasi organisasi berpengaruh positif terhadap kinerja
b. Apakah komunikasi organisasi berpengaruh negatif terhadap tekanan
pekerjaan
c. Apakah tekanan pekerjaan berpengaruh negatif terhadap kinerja
d. Apakah komunikasi organisasi berpengaruh positif terhadap komitmen
organisasi
e. Apakah komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap kinerja
f. Apakah komunikasi organisasi berpengaruh terhadap kinerja dengan
komitmen organisasi dan tekanan pekerjaan sebagai variabel intervening

Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka tujuan penelitian adalah

1. Untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh komunikasi organisasi terhadap kinerja.

2. Untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh komunikasi organisasi terhadap tekanan pekerjaan.

3. Untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh tekanan pekerjaan terhadap kinerja.

4. Untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh komunikasi organisasi terhadap komitmen organisasi.

5. Untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh komitmen organisasi terhadap kinerja.

6. Untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh komunikasi organisasi terhadap kinerja dengan komitmen organisasi dan tekanan pekerjaan sebagai variabel intervening

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan teori, terutama yang berkaitan dengan akuntansi perilaku.
2. Diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis pada atasan dalam meningkatkan kinerja karyawan akuntansi melalui hubungan antara tiga variabel, yaitu komunikasi organisasi, komitmen organisasi dan tekanan pekerjaan.

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini disajikan dalam lima bagian yaitu

Bab I, berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.


Bab II, membahas mengenai tinjauan pustaka yang berkaitan dengan telaah teori, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran teoritis, dan hipotesis penelitian.

Bab III, membahas metode penelitian mengenai desain penelitian, unit analisis, populasi dan sampel, teknik pengambilan sampel, operasionalisasi variabel, lokasi dan waktu penelitian, data dan metode pengumpulan, dan teknik analisis data.

Bab IV, merupakan hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari data penelitian, hasil penelitian, serta pembahasan.

Bab V, berisikan kesimpulan, keterbatasan, implikasi dan saran.

CONTOH JUDUL PENELITIAN KUALITATEIF, MAKALAH PENGARUH KOMUNIKASI ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN BAGIAN AKUNTANSI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI DAN TEKANAN PEKERJAAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENIN, analisa motivasi karyawan,skripsi PENGARUH KOMUNIKASI ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN BAGIAN AKUNTANSI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI DAN TEKANAN PEKERJAAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENIN

Baca selengkapnya......

Saturday, May 22, 2010

Pengaruh Kemampuan dan Motivasi Pegawai Terhadap Kinerja PegawaiPada UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi

Pengaruh Kemampuan dan Motivasi Pegawai Terhadap Kinerja PegawaiPada UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi

Oleh Mumuh, S.Pd., M.Pd.
Abstrak
Dari hasil penelitian dapat terungkap bahwa pengaruh bersama dari tingkat kemampuan dan motivasi pegawai terhadap kinerja pegawai adalah signifikan dengan hasil pengaruh yang relatif tidak terlalu besar (sebesar 54,3 %). Namun secara parsial hasil analisis menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan baik untuk kemampuan kerja dan tingkat motivasi pegawai terhadap kinerja. Oleh karena itu sebaiknya UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi meninjau kembali kebijakan yang telah ditetapkan terutama menyangkut peningkatan kemampuan pegawai dan pemberian motivasi dalam bentuk nyata.
Pendahuluan


Kemampuan kerja pegawai berhubungan erat dengan motivasi dan kinerja pegawai, Kopelman (1986) menyatakan bahwa kinerja merupakan fungsi pelengkap dari inovasi dengan kemampuan kerja atau dengan formula Pf (MxA) dimana jika salah satu fungsi produktif, baik inovasi (Motivation) ataupun kemampuan kerja (Ability) itu tidak ada, maka kinerja pegawai akan rendah, jika kemampuan kerja tinggi dan motivasi kerja rendah atau sebaliknya, maka kinerja pegawai akan rendah pula. Kemampuan dan motivasi kerja dalam melaksanakan pekerjaan memiliki kinerja organisasi yang berorientasi kepada profit, sehingga kinerja yang baik sangat diperlukan dan berperan pada organisasi yang akan mengalami pertumbuhan lebih baik (Hidayat, 1986). Keith Davis dalam AA. Anwar (2001 : 67) juga menyatakan bahwa pegawai yang memilki kemampuan diatas rata-rata dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya, dan memiliki keterampilan dalam melaksanakan tugas sehari-harinya, ia akan mampu mencapai tingkat kinerja yang lebih tinggi. Oleh sebab itu penempatan pegawai harus sesuai dengan tingkat pendidikan, tingkat keahlian/pengalamannya dan harus sesuai dengan tingkat keterampilannya. Selain itu, kemampuan pegawai akan mudah mencapai tingkat kinerja yang diharapkan apabila didukung oleh motivasi yang tinggi.

Fakta kinerja di UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi masih jauh dari harapan, kemampuan kerja masih rendah, pendidikan pegawai pada umumnya lulusan SMA, dan dahulunya para pegawai masuk tanpa ada seleksi penerimaan pegawai. Padahal di dalam mengantisipasi tuntutan profesionalisme kemapuan kompetensi profesional sumber daya manusia menjadi syarat utama bagi pengembangan UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lengkongan. Dengan latar belakang ini maka penulis melakukan penelitian di UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lengkong Kabupaten Sukabumi untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan motivasi kerja pegawai membentuk kinerja UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lengkong
Selengkapnya DOWNLOAD

Baca selengkapnya......

Pendidikan Berbasis Moralitas

Kondisi penegakan hukum yang buruk tersebut sangat terkait erat dengan kualitas aparat penegak hukum sebagai salah satu elemen dalam sistem hukum, bahkan menjadi salah satu faktor terpenting dalam penegakan hukum. Kualitas aparat penegak hukum secara umum dinilai berbagai kalangan masih sangat buruk karena kurang professional, tidak jujur, mudah disuap, korup, tidak memiliki hati nurani, dan sebagainya yang bersifat negative. Jika ditelusuri pembentukkan watak, kemampuan, dan kepribadian penegak hukum itu, akan sampai pada titik tertentu, yakni pendidikan hukum dimana aparat penegak hukum itu menimba ilmu pengetahuan hukum.

Walaupun kondisi buruk penegakan hukum itu tidak dapat disalahkan semuanya kepada pendidikan hukum, tetapi sedikit banyaknya kualitas penegak hukum yang demikian juga dibentuk oleh pendidikan hukum di fakultas hukum. Untuk itu penting untuk melakukan pengkajian mengenai sejauh mana sistem pendidikan hukum di fakultas hukum memengaruhi kepribadian, watak, dan kemampuan seseorang penegak hukum.

Salah satu jawaban yang dapat diberikan dalam persoalan tersebut yakni bahwa sistem pendidikan hukum di fakultas hukum masih kurang berbasis moralitas yang bertumpu pada agama dan etika. Sebagian isi dari sistem pendidikan hukum yang ada masih sarat dengan aspek secular dan liberal. Kondisi ini dapat dipahami mengingat sistem pendidikan hukum di Indonesia banyak menyerap dan mengadopsi sistem pendidikan hukum barat, terutama Belanda, yang memang sekuler dan liberal sebagai konsekuensi logis dari penjajahan Belanda di Indonesia. Karakteristik hukum yang demikian sesungguhnya sama sekali tidak sesuai dengn kondisi masyarakat Indonesia yang religius, dimana agama menjadi acuan penting dalam menjalani kehidupan, terutama menentukan sikap terhadap lingkungannya.

Oleh karena itu, penting untuk dipertimbangkan bagaimana membangun pendidikan hukum yang berbasis moralitas di tanah air. Tujuannya agar proses pendidikan hukum yang berlangsung sejalan dengan nilai-nilai moralitas, serta lulusannya selain menguasai pengetahuan hukum secara teoritis dan profesi, juga memahami kedudukan dan perannya sebagai makhluk yang bermoralitas dengan taat menunaikan ajaran agamanya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Pendidikan hukum yang berbasis moralitas mempunyai dasar hukum yang sangat kuat, baik di tingkat konstitusi maupun undang-undang, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengakui dan menganut ide Ketuhanan Yang Maha Esa, baik dalam Pembukaan maupun pasal-pasal. Salah satu pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 yang memuat cita-cita luhur dan filosofis adalah "bahwa negara Indonesia adalah negara yang berKetuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab".

Dalam hal pendidikan, UUD 1945 juga telah menentukan bahwa pendidikan sangat erat dengan moralitas. Hal ini dapat dikaji dari rumusan Pasal 31 ayat (3) yang menyatakan bahwa "Pemerintah mengusahakan da menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang".

Hal ini berarti, negara hendaknya membuka ruang bagi ekspansi yang berbasis moralitas, agama, dan nilai-nilai spiritual ke dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk juga pendidikan. Pemisahan nilai-nilai profetik-spritual dari urusan duniawi justru memperburuk krisis, penderitaan, ketidakadilan, dan konflik (sumber http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55705:aparat-penegak-hukum-haruslah-bermoralitas&catid=78:umum&Itemid=131)
tag; Analisa Pendidikan Berbasis Moralitas, makalah pengembangan Pendidikan Berbasis Moralitas,sistem Pendidikan Berbasis Moralitas,pelaksanaan Pendidikan Berbasis Moralitas,

Baca selengkapnya......

Evaluasi Dampak Program Penanggulangan Kemiskinan di Sektor Pertania

Evaluasi Dampak Program Penanggulangan Kemiskinan di Sektor Pertania ditingkat Rumah Tangga dan Wilayah Pedesaan

Selengkapnya http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/MAKPROP_BNR.pdf

Baca selengkapnya......

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF
Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistickontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif.

Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan.
SELENGKAPNYA CONTOH PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

Baca selengkapnya......

Analisa Kebudayaan Lampung Kini dan Esok

Analisa Kebudayaan Lampung Kini dan Esok ; KEBUDAYAAN memiliki banyak sekali pengertian. Salah satu definisinya sebagai kenyataan yang dilahirkan manusia dengan perbuatan. Kebudayaan tidak saja pada asalnya, tapi juga kelanjutannya bergantung pada perbuatan manusia sebagai manivestasi dan jiwanya (Sidi Gazalba;1961 ).

Dengan kata lain, budaya itu muncul akibat perbuatan atau perilaku dari kejiwaan manusia. Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa dengan kebudayaannya sendiri-sendiri yang diturunkan oleh nenek moyang suku-suku tersebut. Kebudayaan itu sendiri selalu berkembang menurut zaman di mana manusia itu hidup dan bagaimana interaksi antara manusia itu berlangsung.

Berbicara kebudayaan Lampung tentu tidak terlepas dari sejarah peradaban masyarakat Lampung itu sendiri. Bagaimana masyarakat Lampung tumbuh dan berkembang di suatu wilayah dari Pulau Sumatera Bagian Selatan, bagaimana ia berinterkasi dengan suku bangsa lain. Baik interaksi tersebut berlangsung akibat wilayah hidup yang berdekatan seperti suku-suku yang ada di daratan Sumatera maupun suku bangsa lainnya di seberang lautan yang terdekat seperti Jawa.

Pada setiap suku bangsa ada nilai-nilai maupun norma-norma yang harus dijunjung tinggi oleh setiap warganya. Antara setiap suku bangsa dengan lainnya kerap memiliki norma-norma yang berbeda. Namun perbedaan itu apabila ditelaah, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa kebudayaan pada semua suku bangsa menghendaki kehidupan yang harmonis, serasi dengan berpegangan pada pakem yang ada.

Dalam hal inilah, kebudayaan Lampung memiliki peran yang strategis dalam menciptakan suatu tatanan masyarakat yang harmonis. Filosofi bahwa yang dimaksud masyarakat Lampung adalah mencakup warga masyarakat yang hidup di wilayah lampung tanpa memandang latar belakang suku bangsa mereka berasal wajib dijunjung tinggi.

Kita wajib bersyukur bahwa pemerintah daerah Lampung dalam rangka upayanya untuk melestarikan kebudayaan Lampung telah memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum sekolah mulai tingkat dasar. Harapannya dapat tetap eksis dan dikenal masyarakatnya sendiri di tengah dahsyatnya serbuan bahasa-bahasa asing yang suka maupun tidak harus dihadapi akibat interaksi antar masyarakat dunia semakin intens tanpa dapat dihalangi oleh jarak dan waktu.

Tantangan yang Dihadapi

Menurut penulis, tantangan yang dihadapi masyarakat Lampung akan kebudayaan Lampung sendiri kini dan esok adalah bagaimana kebudayaan Lampung tetap eksis dan menjadi salah satu pakem individu maupun secara sosial di antara pakem-pakem lain. Seperti agama dan perundang-undangan yang berlaku agar kemajemukan masyarakat yang ada di wilayah Lampung dapat bersatu secara sinergis sehingga tercipta sebuah tatanan masyarakat madani.

Beberapa ciri fisik dari kebudayaan Lampung yang harus ada dan tetap muncul sehingga masyarakat Lampung tidak kehilangan jati diri sebagai pewaris dan penerus kebudaan lampung. Pertama, bahasa daerah Lampung. Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang memungkinkan sekumpulan individu dapat berinteraksi. Bahasa Lampung merupakan satuan yang tidak terpisahkan dari kebudayaan Lampung itu sendiri. Sehingga, bahasa Lampung harus dilestarikan baik itu melalui pembelajaran bahasa daerah di pendidikan formal, informal dan nonformal, pagelaran dan pertunjukan seni budaya lampung, komunikasi lisan, maupun tulisan di perkantoran pemerintah pada hari-hari tertentu.

Kedua, rumah adat Lampung yang umumnya berbentuk rumah panggung. Saat ini keberadaan bentuk rumah adat Lampung hanya dapat dilihat di beberapa wilayah. Hal ini tentu perlu dipertahankan agar masyarakat Lampung yang ada tetap mempertahankan bentuk rumah adat mereka yang salah satunya melalui regulasi pemerintah. Regulasi pemerintah ini dipandang perlu karena bentuk rumah adat merupakan salah satu ciri fisik dari kebudayaan Lampung yang patut dilestarikan.

Ketiga, upacara-upacara adat (ragom gawi) yang alhamdulillah kini banyak diterapkan dalam masyarakat lampung seperti; upacara pernikahan, pengukuhan gelar adat, dan lain-lain. Keempat, seni dan budaya Lampung seperti musik, seni sastra yang meliputi puisi dan pantun, seni tari, dan pencak silat perlu lebih digiatkan kembali yang kesemua itu merupakan warisan budaya Lampung yang tidak ternilai harganya.

Serbuan budaya asing yang terjadi saat ini akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi informasi menyebabkan seakan-akan dunia hanya berada dalam satu genggaman saja. Yang ini berarti interaksi dan komunikasi antar bangsa menjadi lebih intens karena faktor jarak dan waktu dibelahan dunia mana pun menjadi lebih singkat dan cepat. Sehingga, upaya melestarikan kebudayaan lampung sebagai bagian kekayaan budaya indonesia tidak hilang digerus zaman yang serba instan dan canggih seperti saat ini melainkan kebudayaan Lampung melalui upaya-upaya pelestarian diatas tetap eksis dan tetap menjadi salah satu kebanggaan budaya bagi seluruh bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bisshawab. Sumber http://www.radarlampung.co.id/web/opini/14618-kebudayaan-lampung-kini-dan-esok.html

Tag: Makalah Sejarah kebudayaan Lampung, analisa perkembangan budaya lampung, persfektif kebudayaan daerah, kepunahan kebudayaan Lampung, pengaruh globalisasi terhadap budaya lampung, dampak negatif kemajuan teknologi terhadap perkembangan budaya lampung dimasa datang,

Baca selengkapnya......

Jenis-jenis Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:

1. Biografi
Penelitian biografi adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap turning point moment atau epipani yaitu pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang. Peneliti menginterpretasi subjek seperti subjek tersebut memposisikan dirinya sendiri.

2. Fenomenologi

Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti tentang apa yang dikatakan oleh responden.

3. Grounded theory
Walaupun suatu studi pendekatan menekankan arti dari suatu pengalaman untuk sejumlah individu, tujuan pendekatan grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu . Situasi di mana individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat kepada konteks peristiwa dipelajari.

4. Etnografi
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial. peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah penelitian. Sebagai proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok, dimana dalam pengamatan tersebut peneliti terlibat dalam keseharian hidup responden atau melalui wawancara satu per satu dengan anggota kelompok tersebut. Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5. Studi kasus
Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi. Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

Baca selengkapnya......

Sistematika Penelitian Kualitatif

Judul
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar

Bab I Pendahuluan
Konteks Penelitian
Fokus Kajian Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian

Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka

Bab III Metode Penelitian

Pendekatan
Batasan Istilah
Unit Analisis
Deskripsi Setting Penelitian
Pengumpulan Data
Analisis Data
Keabsahan data

Bab IV Hasil dan pembahasan

Bab VI Kesimpulan dan saran

Daftar pustaka
Lampiran

Baca selengkapnya......

Friday, May 21, 2010

Sejarah Nama Gunung Fujiyama

Info Gua Sejarah Nama Gunung Fujiyama ; Pada jaman dahulu kala hidup sepasang kakek nenek di desa terpencil. Pekerjaan sang kakek adalah sebagai penebang bambu. Pada suatu hari ketika sang kakek akan menebang bambu, ia melihat bambu yang bercahaya seperti emas. Karena penasaran, maka sang kakek memotong bambu tersebut dan ternyata di dalam bambu itu ditemukan anak perempuan yang kira-kira tingginya 9 cm.

Sang kakek kemudian membawa anak perempuan itu pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, kakek memberi tahu nenek dan mereka akhirnya memberi nama anak itu Kaguya. Setelah merawat Kaguya, setiap kakek pergi ke gunung untuk menebang bambu, di dalam bambu tersebut pasti ditemukan emas. Kehidupan merekapun menjadi makmur berkat Kaguya.

Tak terasa putri Kaguya tumbuh menjadi sosok putri yang sangat cantik sampai kecantikannya itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Banyak orang-orang dari kalangan berada sampai pajabat kerajaan ingin mempersunting putri Kaguya, tetapi entah mengapa putri Kaguya menolak lamaran mereka. Putri Kaguya memikirkan cara untuk menolak lamaran mereka dengan menyuruh membawa barang-barang yang mustahil adanya. Siapa yang berhasil membawa barang-barang yang diinginkan sang putri, maka dia akan menerima lamaran salah satu dari mereka. Barang-barang tersebut diantaranya adalah mangkuk suci sang Buddha, kalung yang terbuat dari bola mata naga, kipas bercahaya dan lain-lain. Para lelaki itu datang dengan membawa barang yang diminta, namun semua barang yang dibawa itu palsu karena barang yang diminta putri Kaguya tersebut mustahil ditemukan di bumi ini.


Malam bulan purnamapun akan segera datang. Sambil memandang bulan, putri Kaguya menangis dalam kesedihan. Kakek dan nenek merasa khawatir kenapa putri kesayangannya merasa sedih. Akhirnya pada tanggal 8 Agustus, putri Kaguya menyampaikan perasaannya kapada kakek dan nenek. Ia mengaku bahwa sebenarnya ia berasal dari bulan dan harus kembali ke bulan saat bulan purnama tiba. Putri Kaguya sedih karena harus meninggalkan kakek dan nenek yang dicintainya. Karena tidak mau kehilangan putri Kaguya, maka kakek dan nenek berusaha mempertahankan putri Kaguya saat sang putri dijemput oleh utusan bulan untuk kembali ke bulan. Namun usahanya itu sia-sia. Akhirnya putri Kaguya pergi menuju bulan.

Sebagai kenang-kenangan dan tanda terima kasih, putri Kaguya memberi Fushi no kusuri (Obat hidup kekal) kepada kakek dan nenek yang selama ini merawatnya. Sayangnya, kakek membakar obat itu karena ia merasa meskipun bisa hidup abadi dengan meminum obat itu, tanpa ada Kaguya di sisi mereka apalah artinya. Kakek membakar obat itu di atas puncak gunung tertinggi di Jepang. Gunung tempat sang kakek membakar obat itu kemudian diberi nama Fushi no yama (gunung abadi), dan gunung itu sekarang dikenal dengan nama Fujiyama.

Gunung Fuji adalah gunung keabadian atau orang Jepang menyebutnya Fuji san (san berarti gunung, khusus untuk menyebut gunung Fuji) merupakan gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Prefektur Shizuoka dan Yamanashi. Ketinggian gunung Fuji adalah 3.776 M. Gunung ini adalah simbol bagi negara Jepang selain bunga sakura. http://erabaru.net/sejarah/56-sejarah/11391-asal-usul-nama-gunung-fujiyama

Baca selengkapnya......

Wednesday, May 19, 2010

Makalah Analisa Tantangan dan Agenda Ekonomi Pasca-Sri Mulyani

Info gua Makalah Analisa Tantangan dan Agenda Ekonomi Pasca-Sri Mulyani ; Mundurnya Sri Mulyani dari kursi menteri keuangan sejenak mengurangi ketegangan politik di negeri kita. Hubungannya yang kurang membaik dengan partai politik atau politikus di Senayan setidaknya membawa implikasi politis rendahnya dukungan terhadap kebijakan pemerintah. Tawaran Bank Dunia merupakan pintu masuk yang tepat untuk memberikan kesempatan pengabdian kepada Sri Mulyani.

Di luar kehebohan kasus Bank Century, kehidupan berbangsa tetap harus berjalan. Indonesia tidak boleh tersandera oleh manuver politik. Politikus boleh bermanuver, tetapi sektor ekonomi harus tetap berjalan memanfaatkan momentum kian membaiknya kondisi domestik dan global. Indonesia sudah saatnya mencapai tahap harus menuntaskan berbagai ganjalan dan tantangan dalam bidang ekonomi agar bisa bersaing dalam era global.

Harus kita akui bahwa Sri Mulyani telah membawa kemajuan, terutama dalam menjalankan reformasi birokrasi. Kemajuan ekonomi juga patut kita apresiasi, terutama dalam menciptakan stabilitas makroekonomi yang menjadi fokus dalam proses penguatan ekonomi.

Meski demikian, kemajuan itu belum dapat mendorong sepenuhnya bagi kegiatan ekonomi riil yang diperlukan untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Secara fundamental, sektor riil masih menghadapi kerentanan. Bahkan kinerja sektor makro yang membaik masih belum mampu menciptakan gairah bagi sektor perbankan untuk menurunkan suku bunga pinjaman guna mendukung sektor riil.

Agenda ke depan, selain kita harus menyelesaikan masalah bottleneck yang mengganggu kualitas pembangunan ekonomi, kita juga harus bersaing dengan negara-negara lain dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dengan memacu perekonomian. Kita juga harus pandai memetik peluang dalam bersaing dengan negara dalam memanfaatkan kondisi ekonomi global yang kini mulai menunjukkan perbaikan.

Setidaknya ada beberapa agenda ke depan yang harus dilakukan, di antaranya adalah potensi laju pertumbuhan harus ditingkatkan, mengefektifkan daya dorong fiskal dan moneter, serta memperbaiki sekor yang kinerjanya lemah.

Sejak perekonomian ditimpa krisis ekonomi, Indonesia tidak pernah lagi mampu mencapai pertumbuhan ekonomi lebih dari 6%. Pada saat ini, ekonomi kita sudah mengalami proses pemulihan. Namun dengan struktur ekonomi saat ini, laju pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia hanya sekitar 6%. Padahal dengan potensi yang ada, seharusnya perekonomian Indonesia harus tumbuh paling tidak dengan laju di atas 6,5% untuk dapat menyerap tenaga kerja yang memasuki usia kerja.

Pemerintah menargetkan pada tahun 2014 nominal produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp10.000 triliun atau US$1,111 triliun dengan asumsi nilai tukar rupiah Rp9.000/US$. Target itu dimungkinkan dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Dengan pencapaian tersebut, pendapatan per kapita akan menjadi US$4.500. Peningkatan PDB nominal tersebut dimungkinkan karena perekonomian akan terus tumbuh rata-rata 6,3$-6,8$ per tahun hingga 2014 atau mencapai 7%-7,7% pada 2014.

Lantas, di manakah posisi kita sekarang? Apakah bangsa kita siap berkompetisi di era global. Posisi daya saing kita di level global terus meningkat, meski negara lain juga semakin melampaui kita. Survei Doing Business 2010 oleh IFC dan Bank Dunia menempatkan daya saing Indonesia sebagai negara yang menjanjikan, bahkan indeks persaingan global Indonesia meningkat tajam. Sementara itu, lembaga investasi CLSA menilai Indonesia akan menjadi kekuatan dunia bersama India dan China.

Namun, prestasi tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab kondisi yang dibutuhkan oleh bangsa kita, yakni pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat untuk mampu menjawab persoalan kemiskinan dan pengangguran.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi masih sangat moderat jika dibandingkan dengan potensi yang sesungguhnya bisa dicapai. Saatnya bagi pemerintah memberikan perhatian terhadap sektor-sektor yang selama ini mengalami pertumbuhan rendah jika dibandingkan dengan potensi yang ada, yakni sektor ekonomi berbasis sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, kehutanan dan pertambangan.

Stabilitas ekonomi tetap harus memperoleh perhatian serius, tetapi sektor riil adalah tumpuan harapan bagi masyarakat untuk penciptaan lapangan kerja. Dalam era desentralisasi, upaya mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan merata membutuhkan kebijakan yang sinergis pusat dan daerah. Kerja sama ini terutama untuk membangun sektor unggulan dan cluster demi peningkatan nilai tambah, memastikan terurainya sumbatan masalah infrastruktur, pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi baru, serta mengembangkan kawasan ekonomi khusus dengan insentif.

Kita juga harus segera menaikkan nilai tambah industri melalui penguasaan teknologi dan peningkatan SDM. Selain memacu daya saing sektor komoditas, gejala deindustrialisasi mendesak ditangani secara serius agar sektor manufaktur nasional bisa menjadi motor ekonomi yang kompetitif dengan skala usaha yang terus bertambah besar. Hanya dengan cara demikian, industri nasional bisa menjaga pasar domestik sekaligus menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar ekspor.

Di samping itu, penguatan pasar domestik terutama menjaga pasar dalam negeri dari serbuan barang-barang impor sangat penting. Pemerintah harus lebih aktif untuk melindungi industri dalam negeri dari persaingan tak sehat barang-barang impor. Industri manufaktur tidak hanya keok oleh barang impor, tetapi juga dihantam masuknya barang-barang selundupan. Barang-barang impor baik legal maupun selundupan kini sangat leluasa membanjiri pasar.

Kita perlu langkah terobosan, seperti menghilangkan kekakuan praktik-praktik rente ekonomi yang makin lama makin terasa membebani daya saing. Selain itu, tanpa sebuah tekad untuk melaksanakan clean goverment rasanya berat buat kita untuk bersaing secara bebas di pasar global.

Kemampuan mengelola fiskal

Salah satu tantangan menteri keuangan adalah mengelola anggaran negara. Apalagi sejak diundangkan tiga paket di bidang keuangan negara, pengelolaan anggaran negara dilakukan berbasis kinerja dan isu-isu profesionalisme, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran negara seperti korupsi, inefisiensi, dan misalokasi, semakin memperoleh perhatian serius.

Harus kita akui, sejak era Sri Mulyani, dalam bidang pengelolaan anggaran negara yang tecermin dalam laporan keuangan kementerian negara/lembaga (LKKL) terus mengalami kemajuan. Meski masih ada beberapa LKKL yang masih memperoleh opini disclaimer, jumlahnya terus menurun.

Dalam pengelolaan anggaran Negara, publik ingin melihat sejauh mana pengelolaan anggaran benar-benar menjadi alat politik yang efektif dalam mencapai tujuan pembangunan, terutama dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Selama ini telah terjadi inefisiensi penyerapan anggaran baik pada kementerian dan lembaga maupun anggaran daerah.

Untuk anggaran daerah, juga masih mengalami keterlambatan penyerahan sehingga menyebabkan anggaran kehilangan fungsi untuk memicu percepatan roda pembangunan. Sasaran untuk mempertajam prioritas pembangunan sebagaimana dimaksudkan dalam penganggaran berbasis kinerja menjadi sulit tercapai. Padahal penyerapan anggaran yang optimal dan penyerahan anggaran daerah yang cepat diharapkan bisa menjadi daya dorong bagi investasi.

Pengelolaan anggaran negara juga masih terjadi pemborosan dan korupsi yang dapat mendorong misalokasi pendapatan dan pengeluaran negara. Pemborosan dan korupsi dimulai dari (potensi) korupsi yang muncul saat pungutan pajak, hingga pengalokasiannya untuk pembelanjaan publik. Pemerintah harus terus memperbaiki transparansi dan akuntabilitas penerimaan negara baik yang bersumber dari pajak, migas, dan penambangan sumber daya alam lainnya maupun dari penerimaan negara bukan pajak.

Baca selengkapnya......

Tuesday, May 18, 2010

Biografi Gesang Martohartono

info gua Biografi Gesang Martohartono : Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917; umur 92 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia.

Dikenal sebagai "maestro keroncong Indonesia," ia terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang terkenal di Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu 'Bengawan Solo' ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang)

Saat ini Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Walikota Surakarta tahun 1984 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak. Pada tanggal 1 Oktober 2008 telah berusia 92 tahun.

Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.

Lagu Bengawan Solo

Lagu ini diciptakan pada tahun 1940, ketika ia beusia 23 tahun. Gesang muda ketika itu sedang duduk di tepi Bengawan Solo, ia yang selalu kagum dengan sungai tersebut, terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan.

Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang.

Lagu-lagu ciptaan Gesang yang populer


* Bengawan Solo
* Jembatan Merah
* Pamitan (versi bahasa Indonesia dipopulerkan oleh Broery Pesulima)
* Caping Gunung
* Aja Lamis

Baca selengkapnya......

NALAR anggota dewan memang telah tumpul

Info Gua : NALAR anggota dewan memang benar-benar telah tumpul! Itulah saya kira kalimat yang tepat untuk menggambarkan perilaku para wakil rakyat terkait kengototan mereka atas rencana pembangunan gedung baru anggota DPR RI dengan konsep sangat mewah dan biaya yang luar biasa mahal, Rp1,8 triliun! Itu berarti satu kamar anggota DPR senilai Rp3,3 miliar.

Alasan klisenya: gedung yang ada kini sudah tidak representatif dan mengalami keretakan dan kemiringan 7 derajat. Padahal, menurut Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum, kondisi gedung tidak miring dan masih aman hingga 50 tahun mendatang. Bahkan, masih lekat dalam ingatan kita bahwa baru saja renovasi gedung dilakukan dengan menelan biaya miliaran rupiah yang juga menuai kontroversi.

Itulah paradoks sekaligus ironi dalam demokrasi kita. Wakil rakyat yang seharusnya menjalankan fungsi pengawasan dan keterwakilan kerapkali perilakunya justru mencoreng wajah demokrasi. Pembangunan gedung yang menelan biaya triliunan rupiah jelas mencederai rasa keadilan masyarakat. Hal tersebut juga merupakan potret akan miskinnya empati anggota dewan atas penderitaan rakyat dan hilangnya akal budi.

Ironis memang. Di tengah kesulitan hidup dan impitan kemiskinan yang membelit sebagian besar masyarakat, kepekaan dan nurani anggota dewan dengan demikian justru patut dipertanyakan. Gelombang pengangguran kini menghadang di depan mata. Dampak pemberlakuan ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement), dari Januari–Maret 2010 pemutusan hubungan kerja telah mencapai 68.332 pekerja. Sementara jumlah pekerja yang dirumahkan telah mencapai 27.860. Jumlah pengangguran pun telah menyentuh angka 9,82 juta orang.

Menyikapi kondisi gawat seperti itu, langkah yang seharusnya dilakukan anggota dewan adalah bagaimana membuat regulasi-regulasi yang dapat memberikan daya hidup kepada rakyat, bukan justru menghambur-hamburkan uang negara untuk sesuatu yang sesungguhnya tidak urgen. Sementara, pada saat bersamaan, kinerja para anggota dewan dalam menelurkan regulasi-regulasi masíh sangat memprihatinkan. Begitu pula integritas mereka yang hancur akibat skandal korupsi yang terus dipertontonkan dengan telanjang

Kita tentu tidak sedang mengadili anggota dewan. Tetapi, pada situasi seperti ini sesungguhnya yang dibutuhkan adalah sebuah tindakan yang tepat serta kepekaan dan empati untuk menyikapi masalah. Apa pun kebijakan yang hendak diambil, apalagi yang menyedot anggaran negara begitu besar, selayaknya juga harus meletakkan pembenaran etis sebagai dasar penting atas munculnya sebuah kebijakan. Kita butuh landasan etika dalam berpolitik.

Dalam konteks itulah, saya kira tepat apa yang dikatakan Eric Weil (1956) bahwa dimensi moral merupakan dasar rasionalitas paling utama dalam sebuah kegiatan politik berikut kebijakan yang dilahirkan. Dari titik tolak itulah setiap kebijakan yang diproduksi tidak boleh hanya dipasok dari segi-segi yang amat pragmatis, tetapi ada landasan etis yang membimbingnya.

Sikap anggota dewan yang tetap ngotot ingin membangun gedung mewah di tengah penderitaan rakyat jelas merupakan sikap politik yang bebal. Kita lantas bertanya, apakah tindakan itu diambil karena mereka selama ini merasa telah bekerja keras memikirkan nasib rakyatnya? Lebih celaka lagi, apabila di balik proyek tersebut terdapat praktik markup akut yang saldonya dibagi secara proporsional kepada setiap pihak yang terlibat dalam ’’operasi’’.

Pertanyaan selanjutnya, lalu di mana letak keberpihakan terhadap rakyat yang merasa telah diwakilinya? Tak ada sangkut pautnya! Sebagian besar rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan impitan hidup saat ini kondisinya mirip orang yang terendam dalam air sampai ke leher, sehingga ombak yang kecil sekalipun akan menenggelamkannya. (sumber http://www.radarlampung.co.id/web/opini/tajuk/14509-kikis-politik-bebal.html)

Baca selengkapnya......

Monday, May 17, 2010

Program Pendidikan Gratis yang Perlu di Apresiasi

Salah satu masalah yang mengusik kita semua akhir-akhir ini ialah sorotan publik terhadap program (yang secara sosiologis) penuh makna dan berefek positif, adalah pendidikan gratis. Saya amat mafhum bahwa terlalu banyak masalah yang mengitari kehidupan kita sekarang ini,

seperti prestasi dan kualitas nalar anak-anak didik atau anak-anak kita di rumah, prestasi dan kualitas akhlak atau ibadah anak-anak termasuk orang tua atau masyarakat, kedisiplinan sosial masyarakat dalam berkendaraan termasuk memarkirkan kendaraan, dan seterusnya.

Menyangkut program pendidikan gratis, hemat penulis bukan merupakan sesuatu yang disoroti dalam bentuk yang emosional dan demonstratif. Selayaknya hal ini diapresiasi secara konstruktif dan partisipatif dalam kerangka ikut memperkuat serta membantunya sehingga tujuan program yang sama-sama kita ketahui sedang berlangsung dalam masa pemerintahan atau kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo yang kurang lebih baru dua tahun ini, dapat tercapai secara optimal dan maksimal.

Dengan kata lain, program pendidikan gratis ini bukan masalah, tetapi bagian atau bahkan merupakan alternatif substansial dalam mengatasi masalah-masalah dan secara jujur kita mungkin dapat membayangkan bahwa sebagian besar (kalau tidak dikatakan semuanya) masyarakat Sulawesi Selatan,

mendukung dan menikmati efek dan tujuan program ini yakni untuk mendorong dan mengangkat kualitas hidup masyarakat terutama yang berkekurangan melalui akses yang sama dalam pendidikan dan pengajaran.

Pro kontra yang muncul adalah sesuatu yang wajar karena apapun yang merupakan produk manusia, pasti memiliki kekurangan dan memiliki nilai relativitas. Tugas kita yang lain ialah membantu dan menyempurnakannya, karena spirit dan pesan program ini adalah terciptanya masa depan masyarakat yang terdidik dan cerdas.

Hanya Tuhan lah yang secara mutlak mempunyai produk yang benar dan diimani kebenarannya. Sifat-sifat kebenaran Tuhan inilah yang dapat manusia capai dan ikuti sebagai cara untuk mengabdi dan berbuat baik di muka bumi ini.

Allah tidak akan meridai kaum yang yang berbuat zalim terhadap kaum yang lemah, fakir, dan miskin. Bahkan Allah mengingatkan kita agar, merisaukan generasi di kemudian hari yang boleh jadi menjadi lemah dan fakir karena tidak bertanggungjawabnya manusia sebagai generasi sebelumnya.

Oleh karena itu dalam agamapun, program pendidikan terhadap generasi anak-anak merupakan hal yang diharuskan, apalagi program yang berbentuk pendidikan gratis seperti yang ada di Sulawesi Selatan ini, secara wajar dapat dianggap sebagai implementasi ajaran agama yang mendasar dan pokok.

Seharusnya kita secara jujur mengakui bahwa sebagai bentuk pembenaran dan pengakuan masyarakat, bukan saja masyarakat di daerah Sulawesi Selatan akan tetapi masyarakat di luar Sulawesi Selatan, "pendekar" program pendidikan gratis dalam hal ini Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama jajarannya, banyak mendapat penghargaan nasional seperti baru-baru ini dari Jaksa Agung.

Hal ini merupakan pengakuan atas dimensi dan efek manfaat program ini bagi masyarakat dan dapat menjadi contoh bagi daerah yang lain. Hal ini (penghargaan) untuk mengingatkan bahwa salah satu perjuangan yang senantiasa harus diingat oleh bangsa ini adalah perjuangan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan kecerdasan itulah kita akan sanggup mengisi kemerdekaan, dengan melakukan pembangunan di semua bidang kehidupan.

Pendidikan adalah isu sepanjang zaman. Pendidkan adalah sebuah proses di mana generasi dipersiapkan memasuki masa depan. Tiap-tiap generasi dalam sejarah perjalanan bangsa atau khususnya daerah kita harus memiliki kekhawatiran atau tanggung jawab atas generasi berikutnya.

Oleh karena itu harus menyumbangkan apa yang terbaik, sudah barang tentu setiap generasi akan menghadapi tantangan yang berbeda, namun masalah yang menjadi modal untuk menghadapi tantangan tersebut adalah kecerdasan dan kemampuan yang diasah atau dikembangkan melalui pendidikan.

Kalau kita memberikan bekal pendidikan yang cukup kepada generasi baru, kita tidak perlu khawatir terhadap nasib dan masa depan generasi kita yang akan datang. Generasi baru yang akan lahir itu, Insya Allah akan lebih baik dari generasi kita sekarang. Mereka kita harapkan akan mampu berbuat lebih banyak dari apa yang telah dan sedang kita lakukan sekarang ini.

Agenda ke Depan

Laporan Human Development Index dari UNDP tahun 2005 yang dirilis tahun 2007 masih memprihatinkan. Meskipun mengalami kenaikan, HDI Indonesia berada pada ranking 107 di bawah para kompetitor kita seperti Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina. Kita hanya berada di atas Laos dan Vietnam.

Laporan World Competitivenes Report 2005 – 2007 juga membuat kita prihatin. Peringkat daya saing Indonesia ternyata masih rendah. Kita masih berada pada ranking ke-58 dari 60 negara paling kompetitif di dunia yang disurvei. Posisi ini berada di bawah Singapura (3), Thailand (27), Malaysia (28), dan Filipina (49).

Apalagi dibanding "Asian Runner" lain, seperti Hong Kong (2), Taiwan (11), Jepang (21), Korea (29), China (31), dan India (39). Menurut Media Indonesia, data ini bergeming pada tahun 2008. Pertanyaannya adalah, kenapa kita tidak kompetitif? Jawabannya adalah, karena keunggulan kompetitif kita kurang.

Keunggulan kompetitif itu bukan mesin, bukan teknologi, bukan uang, atau kapital lain, tetapi manusia. Pendidikan adalah sarana untuk meningkatkan keunggulan sumberdaya manusia untuk membangun keunggulan kompetitif suatu bangsa atau daerah.

Jepang, Singapura, Taiwan, Korea, menjadi bangsa-bangsa unggulan bukan karena kekayaan alamnya, bukan karena pekerja yang melimpah dan mau dibayar murah, tetapi mereka memiliki pekerja-pekerja berpengetahuan sebagai kekuatan inti. Mereka adalah sumber daya manusia yang menguasai pengetahuan. Menguasai pengetahuan adalah kuncinya.

Barangkali bangsa Indonesia berhasil memiliki pengetahuan seperti bangsa-bangsa unggulan tersebut, namun tahapannya baru memiliki, belum menguasai. Menguasai berarti pengetahuan menjadi bagian hidup. Penguasaan pengetahuan ditentukan oleh sejauh mana masyarakat dan seluruh komponennya mendukung dan berperan aktif dalam program pendidikan.

Di sinilah arti pentingnya pendidikan yang harus didudukkan dalam kerangka masa depan. Masa depan kita adalah bagaimana, pemerataan pendidikan kita melalui kebijakan meningkatkan ketersediaan fasilitas dan sarana serta pra sarana pendidikan kita, bagaimana mutu pendidikan kita serta bagaimana manajemen pendidikan kita yang mengarah kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.

Oleh karena itu, jika saya ditanya bagaimana ini semua bisa kita wujudkan, maka intinya adalah keterpaduan antara masyarakat dan pemerintah serta stakeholder pendidikan lainnya harus sinergis, dalam program pengembangan pendidikan, bukan sikap emosional dan cenderung mencari kelemahan dan kesalahannya, karena manusia itu memang pasti salah dan lemah karena hanya Tuhan-lah yang tidak pernah salah. (sumber http://metronews.fajar.co.id/read/91529/19/menyimak-program-pendidikan-gratis)
Tag; analisa
Program Pendidikan Gratis,makalah kajian Program Pendidikan Gratis, pentingnya Program Pendidikan Gratis dalam mewujudkan kwalitas pendidikan

Baca selengkapnya......

Sunday, May 16, 2010

Penanggulangan Teroris Ala Malaysia

Untuk kali kesekian, Detasemen Khussus 88 berhasil menumpas kelompok teroris. Mungkin kita perlu memikirkan lagi, mengapa pengacau itu leluasa di Indonesia daripada Malaysia? Dulu, Noordin M. Top yang telah mengobok-obok Indonesia tidak bisa meneror di negeri sendiri. Meski negeri jiran itu mempunyai Internal Security Act (Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri) yang bisa menghukum siapa saja tanpa pengadilan, sebenarnya ia tidak mampu mencegah masuknya pendatangan asing yang justru bisa dijadikan pintu masuk teroris untuk melakukan kekerasan. Namun, langkah tersebut tak juga dilakukan.

Kalau ditelisik, Noordin mungkin tak menemukan pelaku yang akan memuaskan niat jihadnya karena kesulitan merekrut segelintir martir. Di Malaysia, ideologi kematian tidak laku. Sebab, warganya berjuang untuk hidup. Betapa pun masih dirasakan ketidakadilan ekonomi, pembagian kue pembangunan di negeri tetangga tersebut lebih merata. Lagi pula, media di sana tidak lagi meributkan isu neoliberalisme, melainkan bagaimana kegiatan ekonomi bermanfaat bagi orang ramai. Malah, partai Islam di sana, Partai Islam Se-Malaysia (PAS), tak lagi berbicara tentang formalisasi syariat, melainkan konsep negara kesejahteraan (di sana disebut negara kebajikan).


Negara dan Islam
PAS sebenarnya menjadi katup bagi unsur-unsur Islam formal sehingga kekuatan fundamentalisme tidak tumbuh subur. Malah, UMNO (United Malays National Organization) sebagai partai sekuler sebenarnya juga wujud dari gerakan islamisasi meskipun tidak formal. Keduanya sama-sama mendukung islamisasi dalam banyak bidang, meski sumber rujukan ideologinya berbeda. Pada masa Anwar Ibrahim, UMNO sebagai partai utama dalam koalisi Barisan Nasional telah berhasil melakukan islamisasi pada banyak bidang, seperti pendidikan (Universiti Islam Antarabangsa) dan keuangan (Bank Muamalat).

Memang, kadang masih muncul perselisihan, apakah Malaysia adalah negara Islam atau bukan. Namun, media massa di sana tak membesar-besarkan isu itu. Perkelahian klaim politik Islam antara UMNO dan PAS acap menyeruak ke permukaan. Keduanya sama-sama memiliki barisan sarjana Islam dan ulama yang di tangannya ada segepok dalil tentang siapakah yang lebih Islam. UMNO sering tampil sebagai antitesis terhadap Islam "kaku" PAS. Tentu itu bisa dipahami karena ia lahir sebagai partai yang memilih Melayu, bukan Islam.

Bagaimanapun, Tunku Abdul Rahman, bapak kemerdekaan Malaysia, menegaskan bahwa Malaysia bukan negara Islam. Pernyataan itu acap diulang banyak orang untuk menegaskan bahwa negara bekas jajahan Inggris tersebut sekuler. Namun demikian, pada masa yang sama, pemerintah juga memberlakukan hukum Islam formal secara selektif. Hukum syariat diberlakukan untuk pelarangan judi dan minuman keras terhadap orang Islam secara aktif. Bahkan, kantor agama Islam di beberapa provinsi berfungsi sebagai polisi moral yang bisa menangkap pelaku yang diduga bertindak "maksiat". Tampak sekulerisme dan syariat berjalan berdampingan. Para islamis tak menemukan ruang untuk menawarkan agenda masing-masing.

Jihad Ekonomi-Budaya
Di Malaysia, sikap ekstrem telah menjadi musuh bersama semua kelompok masyarakat. Sikap moderat yang dianut, bahkan oleh UMNO, dengan konsep Islam Hadhari Abdullah Badawi, bekas Perdana Menteri Malaysia, mengandaikan sikap progresif tak jauh berbeda dengan yang dianut Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Belum lagi, konsep satu Malaysia dari Najib, PM ke-6, yang mengandaikan kesatuan masyarakat dari berbagai latar belakang etnik dan agama sebagai satu bangsa telah mengandaikan sebuah ideologi pluralisme. Pendek kata, Malaysia memegang teguh multikulturalisme.

Sikap keras Malaysia terhadap sikap ekstrem telah mengikis pandangan eksklusif segelintir masyarakat. Organisasi keagamaan di sana, seperti Jamaah Islamiyah Malaysia (JIM) yang dituduh sebagai fundamentalis oleh anggota DPR dari DAP, Jeff Ooi, pernah mencuat ke permukaan. Namun, yang terakhir minta maaf. Sebagai pemakluman, JIM adalah kelompok yang menekankan aksi sosial dan budaya. Organisasi keagamaan lain, Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), juga menganut ideologi lunak dengan menekankan pengembangan pendidikan dan aktivisme sosial.

Tentu yang tak bisa diabaikan adalah gagasan ekonomi Islam yang mengutamakan keadilan. Konsep ideal itu tak hanya diterakan di atas kertas, tapi telah menjadi sikap beberapa pegiat ekonomi, seperti J Corp yang dinakhodai Ali Hashim. Perusahaan itu telah mewakafkan RM 200 juta saham untuk umat. Langkah tersebut dianggap sebagai jihad bisnis. Kegiatan lain, pengembangan properti Islam tidak hanya bersifat fisik, tetapi pada masa yang sama menekankan dasar seperti tazkiyah (pembangunan kerohanian), tarbiyah (pembangun akal budi), tanmiyah (pembangunan sosial dan ekonomi), tatawur (budaya dan gaya hidup), dan akhirnya taqadum (keadaban).

Yang mencengangkan, aktivitas anak perusahaan, seperti klinik masjid, juga terbuka bagi masyarakat nonmuslim. Tidak heran, ideologi kematian tidak berkembang karena di sana orang Islam berjuang memelihara kehidupan, tujuan utama syariat (maqasid al-syariah).

Berdasar pengalaman negeri jiran, selayaknya para islamis tak lagi menggelorakan jargon formalisasi syariat. Umat Islam di Indonesia telah menjalankan agama sejak Islam datang ke Nusantara pada abad ke-13 hingga sekarang. Pada masa yang sama, organisasi massa keagamaan, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, tidak terlalu asyik dengan hiruk pikuk politik kekuasaan. Keduanya segera mengentaskan masalah ekonomi anggota masing-masing. Kebutuhan mendesak umat adalah tersedianya pelayanan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja serta pengembangan ekonomi. http://www.simpuldemokrasi.com/artikel-opini/2206-melawan-teroris-ala-malaysia.html

Tag : Sistem Kerja teroris,melihat analisa penanggulangan teroris di indonesia

Baca selengkapnya......

REVITALISASI PERTANIAN, PERIKANAN, KEHUTANAN, DAN PERDESAAN

REVITALISASI PERTANIAN, PERIKANAN, KEHUTANAN, DAN PERDESAAN
SASARAN

Sasaran yang akan dicapai dalam prioritas Revitalisasi Pertanian, Perikanan, Kehutanan, dan Perdesaan pada tahun 2010 adalah tercapainya pertumbuhan di sektor pertanian, perikanan dan kehutanan sebesar 2,7 persen, dengan rincian pertumbuhan untuk tanaman pangan 1,5 persen, perkebunan 3,9 persen, peternakan 3,3 persen, dan perikanan sebesar 4,5 persen, untuk:

1. Terwujudkan ketahanan pangan nasional melalui:
a. Tercapainya produksi padi/beras dalam negeri sebesar 54,6 juta ton gabah, didukung dengan optimalisasi lahan tanaman padi terutama di 14 provinsi penghasil utama, operasi dan pengelolaan, pengembangan serta peningkatan fungsi jaringan irigasi, pengendalian banjir, pengelolaan sungai, danau dan waduk, konservasi sumber-sumber air, pengembangan jalan produksi/usahatani dan pengaturan impor;
b. Meningkatnya produksi jagung dan tanaman palawija lainnya serta meningkatnya produksi dan produktivitas pertanian nasional untuk peningkatan pendapatan petani;
c. Meningkatnya sistem kesehatan hewan untuk mengendalikan wabah flu burung;
d. Meningkatnya distribusi, akses pangan, diversifikasi dan keamanan pangan bagi masyarakat;
e. Membaiknya kondisi 282 DAS prioritas dalam mendukung kebutuhan sumber air bagi tercapainya revitalisasi pertanian dan kehutanan.

2. Meningkatnya produksi pertanian, perikanan dan kehutanan yang berkelanjutan dan kesejahteraan petani dan nelayan melalui:
a. Meningkatnya produksi perkebunan, peternakan dan hortikultura;
b. Meningkatnya produksi perikanan sebesar 5,0 persen atau sebesar 7,5 juta ton;
c. Meningkatnya konsumsi, mutu dan nilai tambah perikanan;
d. Terjangkaunya program pemberdayaan ekonomi masyarakat di 14 persen kabupaten/kota yang berpesisir;
e. Berfungsinya penyuluhan dan bimbingan di 3.557 BPP;
f. Terlaksananya fasilitasi pembangunan hutan tanaman seluas sekitar 800 ribu ha dan hutan rakyat 200 ribu ha;
g. Meningkatnya produksi hasil hutan non kayu (rotan, gaharu, gatah jelutung, seedlak);
h. Terlaksananya pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan di 5 taman nasional dan 3 taman wisata alam;
i. Terlaksananya proyek percontohan pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di 8 provinsi;
j. Menurunnya kebakaran hutan dan lahan pada 5 provinsi rawan kebakaran;
k. Terlaksananya koordinasi penanganan illegal logging.

3. Meningkatnya kapasitas dan keberdayaan masyarakat dan lembaga perdesaan, serta dukungan pembangunan infrastruktur perdesaan untuk mendorong diversifikasi kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di perdesaan.

4. Tersusunnya peraturan yang kondusif dan dukungan agar:

a. Tercipta pasar biodiesel (B-10) sebagai bahan pencampur solar untuk dimanfaatkan dalam kegiatan ekonomi lokal dan regional secara terbatas;
b. Terumuskan standardisasi biodiesel dan biofuel nasional;
c. Berkembang produksi bahan baku bahan bakar nabati (BBN) dan pabrik pengolahan (demo plant) biodiesel untuk kapasitas 1 – 8 ton per hari atau sekitar 300-3000 ton per tahun;
d. Tersosialisasikan etanol (E-10) sebagai gasohol (biofuel) di kota-kota besar.
Makalah REVITALISASI PERTANIAN, PERIKANAN, KEHUTANAN, DAN PERDESAAN

Baca selengkapnya......

Pandangan Prof. Dr. Nur Syam, M.Si Terhadap Pendidikan Kaum Perempuan

Ada beberapa variabel yang menyebabkan kenapa banyak perempuan yang tidak memiliki kecenderungan untuk melanjutkan pendidikannya

Pertama, pandangan teologis bahwa perempuan adalah bagian dari lelaki.
Dia adalah tulang rusuk lelaki, sehingga posisinya dalam relasi antara lelaki dan perempuan adalah relasi yang tidak seimbang. Lelaki lebih superior sementara perempuan lebih inferior. Pandangan ini ada yang diangkat dari teks ajaran agama, bahwa yang bisa menjadi pemimpin adalah kaum lelaki sementara perempuan tidak bisa menjadi pemimpin.

Kedua, pandangan sosiologis,
bahwa perempuan dalam banyak hal diposisikan berada di dalam rumah. Lebih banyak berada di dalam urusan domestik ketimbang urusan publik. Masih banyak pandangan sosiologis, yang menyatakan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi. Relasi antara lelaki dan perempuan berada di ruang rumah tangga, sehingga perempuan lebih banyak berada di ruang domestik tersebut.

Ketiga, pandangan psikhologis,
bahwa perempuan dianggap tidak penting untuk berpendidikan karena posisinya lebih banyak menjadi isteri. Di dalam tradisi kita, masih banyak anggapan bahwa perempuan harus cepat dikawinkan. Kawin muda jauh lebih baik ketimbang menjadi perawan tua. Ada ketakutan luar biasa di kalangan orang tua, jika anak perempuannya tidak sesegera mungkin memperoleh jodoh. Ada semacam pandangan bahwa lebih baik menjadi janda muda dari pada menjadi perawan tua.

Keempat, pandangan budaya, adanya anggapan bahwa perempuan merupakan sosok manusia yang secara kebudayaan memang tidak memerlukan pendidikan tinggi. Di dalam hal ini, maka perempuan hanya menjadi pelengkap saja. Ada ungkapan tradisi yang menyatakan ”perempuan itu, suwargo nunut neroko katut”. Artinya bahwa perempuan itu hanyalah konco wingking, atau kawan di belakang atau di dalam rumah.

Kelima, pandangan ekonomi,
bahwa banyak perempuan yang tidak melanjutkan pendidikannya, karena ketidakmampuan ekonomi. Banyak orang tua tidak melanjutkan pendidikan pendidikan anak-anaknya. Banyak yang karena alasan ekonomi kemudian perempuan tidak melanjutkan pendidikannya. Jika misalnya ada dua anak: lelaki dan perempuan, maka yang diminta untuk melanjutkan adalah yang lelaki, sementara yang perempuan sesegera mungkin dikawinkan agar terlepas dari beban ekonomi keluarga.

Pandangan stereotipis seperti ini yang menyebabkan kenapa angka partisipasi pendidikan di kalangan perempuan masih rendah. Banyak perempuan, terutama di daerah pedesaan, yang kemudian tidak melanjutkan pendidikannya. Jika sudah lulus sekolah dasar, maka sudah dianggap cukup. Yang penting bisa membaca.

Di antara sekian banyak variabel tersebut, mungkin variabel ekonomi yang lebih dominan ketimbang variabel-variabel lainnya. Seperti diketahui bahwa jumlah masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan adalah masih sekitar 17,75% dari jumlah penduduk Indonesia. Dari angka ini, maka yang masih dominan adalah di wilayah pedesaan. Makanya jika persoalan kemiskinan itu dikaitkan dengan pandangan budaya, sosial, dan psikhologis masyarakat, maka pantaslah jika angka partisipasi pendidikan perempuan masih rendah.

Oleh karena itu, maka haruslah ada pemihakan kepada kaum perempuan. Saya berkeyakinan bahwa banyak anak perempuan yang cerdas dan memiliki potensi untuk melanjutkan pendidikannya. Maka jika tidak ada kebijakan yang membela kaum perempuan di dalam pendidikan, maka akan banyak potensi perempuan yang tidak bisa dimaksimalkan.

Jika di dalam dunia politik ada kuota 30% perempuan, maka saya rasa juga pantas kalau ada juga kuota untuk partisipasi perempuan di dalam dunia pendidikan. Melalui pemihakan tersebut, maka saya berkeyakinan bahwa kelak akan semakin banyak kaum perempuan yang terdidik, sehingga juga akan semakin banyak peluang yang bisa dimasuki perempuan di dalam kancah kehidupan sosial kemasyarakatan.

Jadi, ke depan mesti harus ada kebijakan yang lebih nyata tentang pemihakan kepada perempuan yang karena ekonomi atau lainnya ternyata tidak bisa mengakses dunia pendidikan.http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=871

Baca selengkapnya......

Friday, May 14, 2010

ANALISA PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI KEBUDAYAAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar.

Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengetian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain. Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya.

Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antarmasyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah,seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan sebagainya

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Dalam perkembangannya globalisasi menimbulkan berbagai masalah dalam bidang kebudayaan,misalnya : - hilangnya budaya asli suatu daerah atau suatu negara - terjadinya erosi nilai-nilai budaya, - menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme - hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong - kehilangan kepercayaan diri - gaya hidup kebarat-baratan

C. RUMUSAN MASALAH

Adanya globalisasi menimbulkan berbagai masalah terhadap eksistensi kebudayaan daerah, salah satunya adalah terjadinya penurunan rasa cinta terhadap kebudayaan yang merupakan jati diri suatu bangsa, erosi nilai-nilai budaya, terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya berkembang menjadi budaya massa.

D. TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu : 1. Mengetahui pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah 2. Untuk meningkatkan kesadaran remaja untuk menjunjung tinggi kebudayaan bangsa sendiri karena kebudayaan merupakan jati diri bangsa

BAB II KERANGKA TEORITIK DAN RUMUSAN HIPOTESIS

A. BATASAN ISTILAH

Dalam pembuatan makalah ini menggunakan istilah-istilah yang sudah dimengerti oleh masyarakat banyak, adapun tujuan dari penggunaan istilah-istilah tersebut yaitu untuk memudahkan pembaca dalam membaca makalah ini.

B. SUDUT PANDANG PENDEKATAN

Sudut pandang yang kami gunakan dalam pembuatan mekalah ini yaitu sudut pandang secara sosiologis dan psikologis yaitu pengaruh globalisasi pada masyarakat umum dan sikap para pemuda dalam menyikapi pengaruh budaya asing.

C. KERANGKA BERPIKIR

Dalam pembuatan makalah ini kami menggunakan pola paragraf dari umum ke khusus, dengan alasan agar pembaca merasa bingung dalam membaca karena dalam membaca dimulai dari hal-hal yang ringan dulu baru meningkat ke hal-hal yang lebih kompleks.

D. RUMUSAN HIPOTESIS

Adanya globalisasi yang memiliki dampak positif maupun negative, maka perlu adanya tindak lanjut dalam menyikapi globalisasi tersebut. Adapun tindakan-tindakan yang dapat dilakukan yaitu : 1. Menambah porsi pengetahuan tentang kebudayaan bangsa di sekolah-sekolah baik mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi 2. Menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative. 3. Mengadakan berbagai pertunjukan kubudayaan 4. Membatasi acara-acara yang dapat memunculkan rasa cinta terhadap budaya asing.

BAB III PEMBAHASAN

A. GLOBALISASI DAN BUDAYA

Gaung globalisasi, yang sudah mulai terasa sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa. Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan. Terkait dengan kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Atau kebudayaan juga dapat didefinisikan sebagai wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat), dimana hal-hal tersebut terwujud dalam kesenian tradisional kita.

Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya. Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi. Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju.

Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka.

Terkait dengan seni dan budaya, Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.

B. GLOBALISASI DALAM KEBUDAYAAN TRADISIONAL DI INDONESIA

Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Kemampuan berubah merupakan sifat yang penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang senantiasa berubah.

Perubahan yang terjadi saat ini berlangsung begitu cepat. Hanya dalam jangka waktu satu generasi banyak negara-negara berkembang telah berusaha melaksanakan perubahan kebudayaan, padahal di negara-negara maju perubahan demikian berlangsung selama beberapa generasi. Pada hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh luar.

Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah atau isu makna budaya dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti.. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah geografisnya. Keanekaragaman masyarakat Indonesia ini dapat dicerminkan pula dalam berbagai ekspresi keseniannya. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan pula bahwa berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dapat mengembangkan keseniannya yang sangat khas. Kesenian yang dikembangkannya itu menjadi model-model pengetahuan dalam masyarakat.

C. PERUBAHAN BUDAYA DALAM GLOBALISASI ; KESENIAN YANG BERTAHAN DAN YANG TERSISIHKAN

Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal, makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia.

Sementara itu, kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita. Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya khususnya di negara ke tiga. Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya.

Di saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi.

Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai tersingkir dan kehilangan fungsinya.

Sekalipun demikian, bukan berarti semua kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus tertindas proses modernisasi. Pesatnya laju teknologi informasi atau teknologi komunikasi telah menjadi sarana difusi budaya yang ampuh, sekaligus juga alternatif pilihan hiburan yang lebih beragam bagi masyarakat luas. Akibatnya masyarakat tidak tertarik lagi menikmati berbagai seni pertunjukan tradisional yang sebelumnya akrab dengan kehidupan mereka. Misalnya saja kesenian tradisional wayang orang Bharata, yang terdapat di Gedung Wayang Orang Bharata Jakarta kini tampak sepi seolah-olah tak ada pengunjungnya.

Hal ini sangat disayangkan mengingat wayang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Indonesia yang sarat dan kaya akan pesan-pesan moral, dan merupakan salah satu agen penanaman nilai-nilai moral yang baik, menurut saya. Contoh lainnya adalah kesenian Ludruk yang sampai pada tahun 1980-an masih berjaya di Jawa Timur sekarang ini tengah mengalami “mati suri”. Wayang orang dan ludruk merupakan contoh kecil dari mulai terdepaknya kesenian tradisional akibat globalisasi. Bisa jadi fenomena demikian tidak hanya dialami oleh kesenian Jawa tradisional, melainkan juga dalam berbagai ekspresi kesenian tradisional di berbagai tempat di Indonesia. Sekalipun demikian bukan berarti semua kesenian tradisional mati begitu saja dengan merebaknya globalisasi.

Di sisi lain, ada beberapa seni pertunjukan yang tetap eksis tetapi telah mengalami perubahan fungsi. Ada pula kesenian yang mampu beradaptasi dan mentransformasikan diri dengan teknologi komunikasi yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, misalnya saja kesenian tradisional “Ketoprak” yang dipopulerkan ke layar kaca oleh kelompok Srimulat. Kenyataan di atas menunjukkan kesenian ketoprak sesungguhnya memiliki penggemar tersendiri, terutama ketoprak yang disajikan dalam bentuk siaran televisi, bukan ketoprak panggung. Dari segi bentuk pementasan atau penyajian, ketoprak termasuk kesenian tradisional yang telah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Selain ketoprak masih ada kesenian lain yang tetap bertahan dan mampu beradaptasi dengan teknologi mutakhir yaitu wayang kulit. Beberapa dalang wayang kulit terkenal seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto tetap diminati masyarakat, baik itu kaset rekaman pementasannya, maupun pertunjukan secara langsung. Keberanian stasiun televisi Indosiar yang sejak beberapa tahun lalu menayangkan wayang kulit setiap malam minggu cukup sebagai bukti akan besarnya minat masyarakat terhadap salah satu khasanah kebudayaan nasional kita. Bahkan Museum Nasional pun tetap mempertahankan eksistensi dari kesenian tradisonal seperti wayang kulit dengan mengadakan pagelaran wayang kulit tiap beberapa bulan sekali dan pagelaran musik gamelan tiap satu minggu atau satu bulan sekali yang diadakan di aula Kertarajasa, Museum Nasional.

D. PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP BUDAYA BANGSA

Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia . Derasnya arus informasi dan telekomunikasi ternyata menimbulkan sebuah kecenderungan yang mengarah terhadap memudarnya nilai-nilai pelestarian budaya. Perkembangan 3T (Transportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi) mengkibatkan berkurangnya keinginan untuk melestarikan budaya negeri sendiri . Budaya Indonesia yang dulunya ramah-tamah, gotong royong dan sopan berganti dengan budaya barat, misalnya pergaulan bebas. Di Tapanuli (Sumatera Utara) misalnya, duapuluh tahun yang lalu, anak-anak remajanya masih banyak yang berminat untuk belajar tari tor-tor dan tagading (alat musik batak). Hampir setiap minggu dan dalam acara ritual kehidupan, remaja di sana selalu diundang pentas sebagai hiburan budaya yang meriah.

Saat ini, ketika teknologi semakin maju, ironisnya kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut semakin lenyap di masyarakat, bahkan hanya dapat disaksikan di televisi dan Taman Mini Indonesi Indah (TMII). Padahal kebudayaan-kebudayaan daerah tersebut, bila dikelola dengan baik selain dapat menjadi pariwisata budaya yang menghasilkan pendapatan untuk pemerintah baik pusat maupun daerah, juga dapat menjadi lahan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitarnya. Hal lain yang merupakan pengaruh globalisasi adalah dalam pemakaian bahasa indonesia yang baik dan benar (bahasa juga salah satu budaya bangsa). Sudah lazim di Indonesia untuk menyebut orang kedua tunggal dengan Bapak, Ibu, Pak, Bu, Saudara, Anda dibandingkan dengan kau atau kamu sebagai pertimbangan nilai rasa.

Sekarang ada kecenderungan di kalangan anak muda yang lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dialek Jakarta seperti penyebutan kata gue (saya) dan lu (kamu). Selain itu kita sering dengar anak muda mengunakan bahasa Indonesia dengan dicampur-campur bahasa inggris seperti OK, No problem dan Yes’, bahkan kata-kata makian (umpatan) sekalipun yang sering kita dengar di film-film barat, sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata ini disebarkan melalui media TV dalam film-film, iklan dan sinetron bersamaan dengan disebarkannya gaya hidup dan fashion .

Gaya berpakaian remaja Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi remaja putri di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Budaya perpakaian minim ini dianut dari film-film dan majalah-majalah luar negeri yang ditransformasikan kedalam sinetron-sinetron Indonesia . Derasnya arus informasi, yang juga ditandai dengan hadirnya internet, turut serta `menyumbang` bagi perubahan cara berpakaian.

Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda. Salah satu keberhasilan penyebaran kebudayaan Barat ialah meluasnya anggapan bahwa ilmu dan teknologi yang berkembang di Barat merupakan suatu yang universal. Masuknya budaya barat (dalam kemasan ilmu dan teknologi) diterima dengan `baik`. Pada sisi inilah globalisasi telah merasuki berbagai sistem nilai sosial dan budaya Timur (termasuk Indonesia ) sehingga terbuka pula konflik nilai antara teknologi dan nilai-nilai ketimuran.

E. TINDAKAN YANG MENDORONG TIMBULNYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN DAN CARA MENGANTISIPASI ADANYA GLOBALISASI KEBUDAYAAN

Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada cultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural. Dalam pengamatan yang lebih sempit dapat kita melihat tingkah laku aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha merubah agar sesuai dengan tuntutan pembangunan. Dalam kondisi seperti ini arti dari kesenian rakyat itu sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi. Melihat kecenderungan tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman dipandang sebagai objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan simbol-simbol pembangunan.

Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh nilai seni yang mendalam dan bukan sekedar hanya dijadikan model saja dalam pembangunan. Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural, karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional.

Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dikehendaki terhadap keaslian dan perkembangan yang murni bagi kesenian rakyat tersebut, maka pemerintah perlu mengembalikan fungsi pemerintah sebagai pelindung dan pengayom kesenian-kesenian tradisional tanpa harus turut campur dalam proses estetikanya.

Memang diakui bahwa kesenian rakyat saat ini membutuhkan dana dan bantuan pemerintah sehingga sulit untuk menghindari keterlibatan pemerintah dan bagi para seniman rakyat ini merupakan sesuatu yang sulit pula membuat keputusan sendiri untuk sesuai dengan keaslian (oroginalitas) yang diinginkan para seniman rakyat tersebut. Oleh karena itu pemerintah harus ‘melakoni’ dengan benar-benar peranannya sebagai pengayom yang melindungi keaslian dan perkembangan secara estetis kesenian rakyat tersebut tanpa harus merubah dan menyesuaikan dengan kebijakan-kebijakan politik.

Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Kita harus beradaptasi dengannya karena banyak manfaat yang bisa diperoleh. Harus diakui bahwa teknologi komunikasi sebagai salah produk dari modernisasi bermanfaat besar bagi terciptanya dialog dan demokratisasi budaya secara masal dan merata. Globalisasi mempunyai dampak yang besar terhadap budaya. Kontak budaya melalui media massa menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya lain yang berbeda dari yang dimiliki dan dikenal selama ini.

Kontak budaya ini memberikan masukan yang penting bagi perubahan-perubahan dan pengembangan-pengembangan nilai-nilai dan persepsi dikalangan masyarakat yang terlibat dalam proses ini. Kesenian bangsa Indonesia yang memiliki kekuatan etnis dari berbagai macam daerah juga tidak dapat lepas dari pengaruh kontak budaya ini. Sehingga untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap perubahan-perubahan diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat global namun tetap bercirikan kekuatan lokal atau etnis. Globalisasi budaya yang begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kebudayaan nasional.

Berbagai kesenian tradisional yang sesungguhnya menjadi aset kekayaan kebudayaan nasional jangan sampai hanya menjadi alat atau slogan para pemegang kebijaksanaan, khususnya pemerintah, dalam rangka keperluan turisme, politik dsb. Selama ini pembinaan dan pengembangan kesenian tradisional yang dilakukan lembaga pemerintah masih sebatas pada unsur formalitas belaka, tanpa menyentuh esensi kehidupan kesenian yang bersangkutan. Akibatnya, kesenian tradisional tersebut bukannya berkembang dan lestari, namun justru semakin dijauhi masyarakat. Dengan demikian, tantangan yang dihadapi oleh kesenian rakyat cukup berat. Karena pada era teknologi dan komunikasi yang sangat canggih dan modern ini masyarakat dihadapkan kepada banyaknya alternatif sebagai pilihan, baik dalam menentukan kualitas maupun selera.

Hal ini sangat memungkinkan keberadaan dan eksistensi kesenian rakyat dapat dipandang dengan sebelah mata oleh masyarakat, jika dibandingkan dengan kesenian modern yang merupakan imbas dari budaya pop. Untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas ada beberapa alternatif untuk mengatasinya, yaitu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM ) bagi para seniman rakyat. Selain itu, mengembalikan peran aparat pemerintah sebagai pengayom dan pelindung, dan bukan sebaliknya justru menghancurkannya demi kekuasaan dan pembangunan yang berorientasi pada dana-dana proyek atau dana-dana untuk pembangunan dalam bidang ekonomi saja

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia . Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah. Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing.

Apabila timur dan barat bersatu, masihkah ada ciri khas kebudayaan kita? Ataukah kita larut dalam budaya bangsa lain tanpa meninggalkan sedikitpun sistem nilai kita? Oleh karena itu perlu dipertahanan aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.

B. SARAN – SARAN

Dari hasil pembahasan diatas, dapat dilakukan beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya pergeseran kebudayaan yaitu : 1. Pemerintah perlu mengkaji ulang perturan-peraturan yang dapat menyebabkan pergeseran budaya bangsa 2. Masyarakat perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah masing-masing khususnya dan budaya bangsa pada umumnya 3. Para pelaku usaha media massa perlu mengadakan seleksi terhadap berbagai berita, hiburan dan informasi yang diberikan agar tidak menimbulkan pergeseran budaya 4. Masyarakat perlu menyeleksi kemunculan globalisasi kebudayaan baru, sehingga budaya yang masuk tidak merugikan dan berdampak negative. 5. Masyarakat harus berati-hati dalam meniru atau menerima kebudayaan baru, sehingga pengaruh globalisasi di negara kita tidak terlalu berpengaruh pada kebudayaan yang merupakan jati diri bangsa kita.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997. 2. Sapardi Djoko Damono, Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan 1997. 3. Fuad Hassan. “Pokok-pokok Bahasan Mengenai Budaya Nusantara Indonesia”. Dalam http://kongres.budpar.go.id/news/article/Pokok_pokok_bahasan.htm, didownload 7/15/04. 4. Koenjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. 5. Adeney, Bernard T. 1995. Etika Sosial Lintas Budaya. Yogyakarta: Kanisius. Al-Hadar Smith, “Syariah dan Tradisi Syi’ah Ternate”, dalam http://alhuda.or.id/rub_budaya.htm , didown load 7/15/04. 6. http://www.google=pengaruh globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan daerah.com/

Baca selengkapnya......