BERITA LAMPUNG

Thursday, April 29, 2010

Dendam dengan Istri, Anak Kuperkosa

Dendam dengan Istri, Anak Kuperkosa, PEKERJAANKU dari hasil menderes kebun karet orang, hanya pas-pasan saja. Arus bawahku jadi sering tak tersalurkan. Apalagi, aku dan Ani (40), mantan istriku sudah sejak 1994 bercerai. Dia pun merantau ke Pekan Baru. Meninggalkan aku dan 3 anak dari hasil perkawinan kami di Dusun Alur Rambung, Desa Paya Mala, Kecamatan Seilepan.

Ani meninggalkanku karena tak tahan hidup susah. Dia menikah lagi dengan lelaki lain yang dianggapnya hidup lebih layak dariku. Aku sakit hati, tapi apa mau dikata, aku tak mampu menggaet wanita lain. Mungkin karena miskin, tak ada seorang pun wanita mau denganku.

Semula aku tak memiliki perasaan apapun pada Far, putri kandungku. Layaknya ayah, aku selalu memberinya uang untuk jajannya. Saat ditinggalkan ibunya, Far masih berusia 5 tahun.

Namun entah kenapa, Nopember 2009 lalu, hasrat kelelakianku bangkit melihat putriku tumbuh sebagai gadis dewasa. Tanpa sengaja aku melihatnya tidur di kamar yang pintunya memang terbuka. Pahanya tersingkap. Situasi saat itu sepi, hanya kami berdua di rumah. Herman, putra sulungku pergi entah kemana. Sedangkan Ban, putra bungsuku merantau ke Aceh.

Mendadak rasa dendamku dengan istriku tiba-tiba muncul. Sakit hati ditinggalkannya membuat aku tak mampu berpikir panjang lagi. Perlahan-lahan aku mendekati Far yang tengah tidur. Kemaluannya kuraba dan kuciumi. Far tersentak bangun. Dia langsung menolak tubuhku.

Tapi aku bagai kerasukan setan. Aku tak peduli penolakannya, aku tak peduli tangisannya. Aku hanya peduli pada diriku sendiri. Dia kuancam akan kubunuh jika menolak dan memberitahukan pada orang-orang. Ternyata ancamanku berhasil. Far ketakutan. Dia tak berani lagi menolakku.

Malam itu, aku menikmati tubuh putriku sendiri. Seterusnya, aku bagai ketagihan. Setiap ada kesempatan, aku selalu minta dilayani. Jika Far menolak, tak segan-segan dia kupukuli.

Mungkin ada 15 kali aku melakukan hubungan intim itu pada Far. Tanpa kusadari, perbuatan berulang-ulang itu mengakibatkan Far hamil. Perutnya mulai membengkak. Meski kandungannya memasuki usia lima bulan, aku tak peduli. Aku hanya ingin, agar arus bawahku tersalurkan.

Kamis (22/4), perbuatan itu kembali kulakukan. Aku tak peduli rintihan Far yang kesakitan. Aku mengira dia pendarahan karena hubungan badan kami. Ternyata tidak, Far keguguran. Saat itu aku belum tahu. Usai melampiaskan nafsuku, aku langsung pergi.

Tak dinyana, uak Far datang. Dia terkejut melihat ponakannya pendarahan. Curiga Far hamil, uak Far lantas menyuruh Herman mengantarkan Far ke tukang kusuk di Tangkahan Durian, Brandan Barat, agar pendarahan dihentikan. Nyawa Far bisa diselamatkan, namun janinnya keguguran.

Peristiwa itu cepat tersebar di kampung. Tiba-tiba saja orang kampung ramai-ramai mendatangiku. Mereka marah karena aku menghamili putri kandungku. Tak tau siapa yang memulai, pukulan dan tendangan warga singgah di tubuhku. Ramainya orang memukul membuat aku sulit melepaskan diri.

Sementara, Herman, putra sulungku itu ditemani uaknya melapor ke Polsek Pangkalan Brandan. Saat itu juga, petugas menjemputku dan memboyong ke markas polisi.

Setelah berada di dalam sel Polsek Pangkapan Brandan, aku baru menyadari kekhilafanku. Saking malunya, aku tak sanggup menatap wajah anak-anakku. Oh Tuhan……masih terbukakah pintu maaf untuk manusia sebejad diriku. Aku bertingkah seperti binatang yang tak mengenal orangtua dan anaknya sendiri. Anak yang kubesarkan, malah kusetubuhi. Untung saja anak yang dikandungnya keguguran. Jika tidak, anak itu harus kusebut apa, cucuku atau anakku???

Baca Juga



0 comments:

Post a Comment